Miniatur Menanti Bantuan Terulur

Posted by

NUSANTARA |  KAMIS, 19 MEI 2011  |  MEDIA INDONESIA

Mereka kebanjiran pesanan, tapi tidak semuanya terlayani karena modal dan sumber daya terbatas.
ARIES MUNANDAR

SEORANG pria berambut cepak berkutat dengan rutinitas setelah ia mengakhiri istirahat siang. Ada setumpuk pekerjaan yang harus diselesaikannya, yakni mengemas puluhan miniatur tugu khatulistiwa.

“Ini semua pesanan dari pelanggan. Ada 50 buah dan harus diantar besok,” kata Jafar, 50, menunjuk deretan miniatur di teras rumahnya.

Jafar adalah perajin dan pemilik pusat kerajinan miniatur tugu khatulistiwa. Ia memanfaatkan rumahnya di Gang H Kasim Jalan Adisucipto, Pontianak, Kalimantan Barat, sebagai tempat usaha.

Aktivitas di bengkel kerja ini setiap hari dimulai pukul 08.00 hingga pukul 16.00 WIB, dengan waktu istirahat siang selama 1 jam. Aktivitas mereka sering kali berlanjut hingga malam hari karena mengejar target penyelesaian pesanan.

Jafar mempekerjakan 12 karyawan yang rata-rata masih memiliki hubungan keluarga dan warga sekitar. Setiap karyawan memiliki tugas, yakni menyiapkan bahan baku, pernak-pernik atau ornamen, merakit, atau mengemas produk.

Pembuatan ornamen pada bagian kepala miniatur menjadi salah satu pekerjaan tersulit. Ornamen khas itu dibuat dari bahan aluminium yang pengerjaannya butuh ketelitian dan kehati-hatian karena memiliki banyak lekukan dan lubang.

“Kalau salah sedikit saja, bahan baku akan terbuang percuma karena tidak bisa digunakan lagi,” kata Sulaiman, 30, karyawan yang telah 13 tahun bekerja dengan Jafar.

Kreasi baru

Adapun bagian utama miniatur tugu khatulistiwa terbuat dari kayu pohon jelutung (Dyera spp). Kayu jenis ini berserat halus dan bertekstur lempung sehingga mudah dipotong dan dibentuk sesuai desain.

Kayu jelutung didatangkan dari Pulau Limbung di Kecamatan Tayan, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Total, sekitar 100 keping kayu jelutung, 72 keping cermin dan kaca bening, serta 20 lembar aluminium dihabiskan pusat kerajinan yang diberi nama CV Mandiri ini dalam sebulan.

Bahan baku itu dipotong dan dibentuk sesuai desain. Selanjutnya, dirakit satu per satu sehingga membentuk miniatur tugu khatulistiwa. Bagian akhir dari proses produksi ini adalah menempatkan sungkup dari cermin dan kaca bening.

CV Mandiri sejak empat tahun terakhir mengembangkan miniatur tugu khatulistiwa yang bisa berputar 360 derajat. Rotasi itu digerakkan dinamo yang dibenamkan di bawah dudukan miniatur. Khusus produk andalan ini, produksinya ditangani langsung oleh putra Jafar, Ari Pardi, 23.

Pengerjaan miniatur berputar lebih rumit. Sebab, miniatur tersebut selain berdinamo juga memiliki lebih banyak ornamen. Di antaranya, motif dari benang emas pada lingkaran di bagian bawah miniatur. “Lampu hiasnya juga harus diberi penyangga. Jika diletakkan langsung pada alas, tempatnya tidak cukup karena ada dinamo,” ujar Ari.

Miniatur berputar ini semula dari dinamo tape recorder bekas. Selanjutnya, penggerak itu diganti dengan dinamo yang biasa digunakan untuk kipas angin. Dinamo berkecepatan 3,5 radian per menit (rpm) tersebut lebih mudah diperoleh karena banyak dijual di pasar.

Miniatur berputar diminati konsumen kelas menengah ke atas dan instansi. Mereka tertarik membeli karena cendera mata ini terlihat lebih unik dan cantik serta terkesan berkelas.

“Harga miniatur yang berputar juga lebih mahal. Bisa mencapai tiga kali lipat dari yang biasa,” jelas Ari.

Selain miniatur tugu khatulistiwa, pusat kerajinan ini juga memproduksi miniatur rumah adat suku Dayak Kalimantan Barat yang disebut betang. Pemasarannya merambah hingga ke negeri jiran. Sedikitnya 20 pesanan miniatur betang dikirim ke Serikin, Malaysia, setiap akhir pekan.

    Kami kewalahan. Kemampuan produksi dalam sepekan hanya 150 buah, sedangkan orderan setiap pekan bisa mencapai 400-500 buah.”

Modal terbatas

Usaha kerajinan miniatur tugu khatulistiwa dirintis Jafar sejak 1986. Dalam sebulan rata-rata ia memproduksi 600 miniatur dengan berbagai ukuran.

Sejak berdiri, usaha tersebut kebanjiran pesanan. Jafar bahkan sering menolak pesanan karena ia sadar tak sanggup memenuhi permintaan.

“Kami kewalahan. Kemampuan produksi dalam sepekan hanya 150 buah, sedangkan orderan setiap pekan bisa mencapai 400-500 buah,” jelas Jafar.

Miniatur tugu khatulistiwa merupakan cendera mata khas dan dicari pelancong saat berkunjung ke Pontianak. Mereka membeli kerajinan tangan ini sebagai oleh-oleh untuk keluarga atau kolega.

“Kalau lagi musim ramai pembeli, miniatur terjual 10 buah dalam sepekan,” kata seorang pedagang cendera mata di Jalan Patimura, Pontianak.

Jafar sampai saat ini masih mengincar sebidang lahan persis di samping rumahnya. Lahan itu akan digunakan untuk membangun tempat usaha yang lebih memadai.

Sayangnya, uang Jafar belum cukup untuk membeli lahan seharga puluhan juta rupiah itu. Ia berharap ada pinjaman lunak. “Kalau bisa, pemerintah menalangi dulu. Selanjutnya, dana talangan itu saya cicil. Sebab, jika meminjam di bank, prosedurnya rumit,” katanya.

Keterbatasan tempat usaha membuat Jafar harus berpikir ulang untuk merekrut karyawan, kendati tenaga itu dibutuhkan guna memenuhi pesanan yang membeludak.

Permasalahan tempat usaha ini pernah menggugurkan keikutsertaan CV Mandiri dalam ajang penghargaan nasional. Panitia seleksi menganggap bengkel kerja tersebut tidak layak karena masih menyatu dengan tempat tinggal. (N-3)

aris@mediaindonesia.com


Blog Updated at: 12:54 PM