Persembahan Orang-Orang Pilihan

Posted by

IMLEK 2562  | JUMAT, 28 JANUARI 2011  |  MEDIA INDONESIA

   USUNG TANDU: Sejumlah warga mengusung tandu yang dilengkapi beberapa
 penyangga pisau untuk mendukung atraksi tatung. (FOTO: MI/ ARIES MUNANDAR)

Hanya mereka yang memiliki panggilan jiwa tanpa pamrih dan garis keturunan atau trah tertentu yang bisa menjadi tatung.

Aries Munandar



SEPASANG tandu tergeletak di sudut teras rumah di sebuah permukiman padat penduduk di Desa Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Satu tandu berwarna merah dan satunya lagi berwarna hijau. Kedua benda yang menyerupai kursi ini berhiaskan motif dan aksara China serta beberapa cermin kecil.

Tandu itu juga dilengkapi beberapa dudukan sebagai penyangga pisau dan benda tajam lainnya. Senjata tajam itu dipasang melintang dan berfungsi sebagai alas tandu. Di tandu ini, Hiu Djap Fong, 55, kerap memperagakan kemahirannya.

Afong, begitu pria murah senyum ini biasa dipanggil. Ia seorang tatung dan tinggal di Gang Melati Putih, Kawasan Pasar Parit Baru. Di kawasan ini terdapat sekitar 40 warga yang menjadi tatung.

“Saya menjadi tatung sejak berusia 40 tahun dan roh yang masuk ke tubuh saya adalah Dewa Kung Lun (Dewa Pengobatan),” kata Afong.

Tatung adalah dukun atau lauya yang memiliki kekebalan terhadap senjata tajam. Mereka beratraksi pada saat Cap Go Meh, yang dirayakan setiap hari ke-15 setelah Tahun Baru Imlek.

Seorang tatung saat beraksi berada dalam kondisi tidak sadar. Mereka kerasukan roh yang diyakini sebagai dewa. Semula aksi ini dilakukan terbatas dan di tempat tertutup. Namun, sejak era reformasi, tatung tampil di tempat umum dan berparade di jalan raya.

Atraksi para tatung kerap membuat penonton bergidik. Sebab, selain mengiris dan menusuk bagian tubuh dengan benda tajam, mereka sering kali memakan hewan secara hidup-hidup atau benda yang tidak lazim dimakan.

Saat beraksi, Afong didampingi istrinya yang membantu prosesi pemanggilan roh dan menuntun Afung saat pemulihan dari kondisi kerasukan. Ia juga menerjemahkan berbagai keinginan Afung selama kerasukan. “Permintaan selama menjadi tatung diucapkan dalam bahasa Mandarin. Jadi, saya menerjemahkannya kepada yang lain supaya permintaan itu bisa dipenuhi,” kata Lai Tung Fo, 48, istri Afong.

TATUNG: Atraksi tatung yang digelar di Singkawang, Kalimantan Barat. (FOTO: MI/ ARIES MUNANDAR)

Orang pilihan
Tidak semua orang bisa menjadi tatung walaupun mereka sehari-hari bergelut dengan dunia mistik atau berprofesi sebagai lauya. Tatung menurut kepercayaan warga Tionghoa adalah orang suci dan pilihan para dewa. Hanya mereka yang memiliki panggilan jiwa tanpa pamrih dan garis keturunan atau trah tertentu yang bisa menjadi tatung.

Kondisi ini juga dialami Afong. Kakek Afong dahulu juga seorang  tatung. Bakat keluarga itu pun kini mulai menurun ke Affat, 28, salah seorang putra Afong.

Namun, anak pertama Afong ini tidak terlalu menggubris titisan keluarganya itu. Ia malah memilih bekerja sebagai pegawai toko di Kuala Lumpur, Malaysia. “Tapi, sewaktu bapaknya kerasukan, ia (Affat) pasti kena imbasnya. Ia pusing, meriang, hingga muntah-muntah,” jelas Lai Tung Fo.

Atraksi  tatung dilakukan secara berkelompok. Mereka mulai turun ke jalan sejak tiga hari menjelang perayaan Cap Go Meh. Tujuannya sebagai tolak bala dan membersihkan wilayah kota dari pengaruh roh jahat yang bergentayangan.

Parade tatung menjadi primadona dan ciri khas perayaan Cap Go Meh di Kalimantan Barat. “Atraksi  tatung telah men jadi ikon pariwisata di Kalimantan Barat,” kata Ketua Majelis Adat Budaya Tionghoa Kalimantan Barat Harso Utomo Suwito.

Atraksi  tatung setiap tahun digelar secara kolosal di Kota Singkawang dan Pontianak. Tahun ini, parade tatung dipindahkan ke Sungai raya, Kabupaten Kubu Raya.

Pengalihan lokasi acara ini karena Pemerintah Kota Pontianak melarang atraksi tatung. Mereka menilai atraksi tersebut mengandung unsur sadisme. (S-1)
aris@mediaindonesia.com


Blog Updated at: 1:03 PM