Lampion Perekat Kebersamaan

Posted by

HUMANIORA |  KAMIS, 3 FEBRUARI 2011  |  MEDIA INDONESIA.COM

ilustrasi
Warga berpatungan membeli lampion agar perayaan Imlek lebih semarak.

Aries Munandar


SEMBURAT merah memancar dan bergelantungan di atas jalan selebar 2 meter. Semburat itu sesekali bergoyangan, tersapu hembusan angin malam. Langit yang masih meninggalkan mendung, sisa hujan beberapa saat lalu semakin menambah romantika suasana.

Semburat merah itu berasal dari deretan lampion yang dipasang warga di Gang Gajah Mada 12. Salah satu kawasan pecinan di bilangan Jl Gajah Mada Pontianak, Kalimantan Barat. Lampion ini dipasang sejak sepekan sebelum Imlek hingga Cap Go Meh, yang dirayakan pada hari kelima belas setelah imlek.

"Agar Imlek dan Cap Go Meh lebih terasa semarak. Itu saja, tidak ada maksud khusus atau tujuan lain," kata Asia,55, salah seorang warga.


Ada belasan barisan lampion menghiasi permukiman yang dihuni 27 keluarga itu. Deretan lampion ini bergelantungan pada kabel listrik dan membentang di antara dua rumah yang saling berhadapan. Setiap lampion dipasangi bohlam listrik 5 watt sebagai sumber cahaya.

Lampion seharga Rp20 ribu hingga Rp75 ribu sepasang ini dibeli dari hasil patungan warga. Mereka menyumbang secara suka rela dan sesuai kemampuan.Ada yang Rp200 ribu, Rp500 ribu dan ada pula menyumbang hingga Rp1 juta.

"Ada juga yang tidak ikut menyumbang karena kebetulan tidak punya uang. Namanya juga suka rela. Tidak bisa dipaksakan," ujar Asia.

Tradisi memasang ornamen Imlek berbahan sutera ini dilakukan sejak dua tahun lalu. Sebelumnya, warga hanya menghiasi permukiman mereka dengan lampu seri. "Tahun lalu kami memasang lampion tapi tanpa lampu, sekarang kami lengkapi dengan lampu. Biar kelihatan terang dan lebih bagus," kata Jimmy,47, ketua RT setempat.


Warga antusias menghiasi permukiman mereka dengan lampion berlampu. Mereka hampir setiap malam ---menjelang imlek--- bergotong royong menyelesaikan pemasangan lampion. Selain melestarikan tradisi, mereka juga ingin menyabet gelar juara seperti tahun sebelumnya.

"Tahun lalu kami juara II (se-kota Pontianak). Mudah-mudahan tahun ini bisa juara I," ujar Jimmy berharap.

Pengusir hama

Hiasan lampion tidak hanya ditemui di Gang Gajah Mada 12 namun di hampir sebagian besar kawasan pecinan di Pontianak lainnya. Termasuk kawasan pertokoan dan pusat perbelanjaan. Bahkan, untaian lampion juga menghiasi kediaman resmi Gubernur Kalimantan Barat, Cornelis .


Ornamen khas di rumah dinas itu memang selalu berganti-ganti dan menyesuaikan dengan peringatan hari besar. Saat Idul Fitri, misalnya kediaman gubernur dipenuhi hiasan ketupat dan pernak-pernik lebaran lainnya. Begitu pula saat Natal tiba, sebuah pohon natal raksasa dipajang di halaman depan.


Menurut Budayawan Tionghoa Kalimantan Barat XF Asali tradisi lampion sudah dikenal sejak zaman Dinasti Tung Zhou, yang berkuasa di China pada 770 SM-256 SM. Tradisi ini berawal dari kebiasaan petani setempat memasang pelita dalam sangkar bambu untuk mengusir hama.

"Perubahan warna pada pelita dalam sangkar (lampion) bisa mengusir hama atau hewan perusak tanaman mereka," kata Asali.

Ia berkisah pemasangan lampion, yang ketika itu masih mengunakan bambu, juga digunakan untuk meramal cuaca dan musim. Tradisi lampion kemudian berkembang ke berbagai wilayah hingga ke luar China.


"Setiap tahun, semakin banyak petani memasang lampion di sekeliling ladang, sehingga menyajikan pemandangan yang indah," ujar Asali.


Selain lampion, malam perayaan Imlek di Pontianak juga disemarakan pesta kembang api. Atraksi ini dimainkan warga dari berbagai penjuru kota. Letupan dan gelegar serta percikan bunga api membahana dan menerangi langit kota sepanjang malam. (OL-12)


Blog Updated at: 12:42 PM