Secercah Terang Menghampiri Betang

Posted by

Nusantara | SENIN, 24 JANUARI 2011  |  MEDIA INDONESIA

MIKROHIDRO: PLTMH Sungailung memanfaatkan aliran air di permukaan sungai. Aliran air ini disadap bendung pengarah (weir), melalui asupan saluran pembawa dan menuju bak pengendap dan penenang. (FOTO: DOK. WWF-INDONESIA)

Betang--rumah adat suku Dayak--di perhuluan Danau Sentarum, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, itu kini dilengkapi pembangkit listrik mikrohidro.

Aries Munandar

RUMAH panggung sepanjang 50 meter ke samping ini berada di Dusun Sungailung, Desa Sungaiabau, Kecamatan Batang Lupar.

Sebagian besar penghuni dusun berpenduduk 30 jiwa ini menetap di betang yang terdiri dari tujuh bilik keluarga tersebut.

Dusun Sungailung sangat terpencil. Butuh waktu sekitar 4,5 jam dengan kendaraan bermotor untuk menjangkau wilayah itu dari ibu kota Kabupaten Kapuas Hulu, Putussibau. Kondisi jalan berbatu dan kerap berubah menjadi kubangan saat musim hujan.

Kehidupan warga dusun sangat sederhana dan masih memegang teguh adat-istiadat yang diwariskan secara turuntemurun oleh para pendahulu. Namun, mereka cukup terbuka dan toleran terhadap budaya luar.

Aktivitas keseharian warga sebagian besar dihabiskan untuk mengurusi kebun dan ladang, hingga menjelang petang. Setelah itu, tidak banyak aktivitas yang bisa dilakukan selain bercengkerama bersama keluarga atau penghuni betang lainnya.

Warga Dusun Sungailung hidup tanpa penerangan listrik. Kondisi inilah yang membatasi aktivitas mereka selama puluhan tahun. Listrik selama ini menjadi barang yang mahal dan langka karena hanya bisa dinikmati saat perayaan adat.

“Listrik hanya menyala saat gawai (pesta panen). Warga patungan membeli bensin untuk menghidupkan genset,” kata Koordinator Unit Komunikasi WWF-Indonesia Program Kalimantan Barat Jimmy Syahirsyah.

Mereka bisa menenun di bawah penerangan lampu yang memadai karena listrik mengalir selama 24 jam sehari.”
Indra Sari Wardhani
staf WWF-Indonesia. 

Listrik mikrohidro
Kehidupan di Betang Sungailung kini mulai berubah. Permukiman komunitas adat Dayak Iban ini terasa lebih semarak karena menjadi terangbenderang di malam hari.

Warga pun bisa menikmati siaran radio dan televisi, bahkan menenun kain di saat matahari telah terbenam.

“Mereka bisa menenun di bawah penerangan lampu yang memadai karena listrik mengalir selama 24 jam sehari,” jelas staf Program Iklim dan Energi WWF-Indonesia Indra Sari Wardhani.

Perubahan ini berkat sebuah mesin pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) yang beroperasi sejak Oktober 2010. Pembangkit berkapasitas 5 kilowatt ini menjadi PLTMH percontohan pertama WWFIndonesia di Tanah Air.

Dusun Sungailung terletak di dataran tinggi dan dialiri sungai berarus deras. Potensi alam ini dimanfaatkan sebagai sumber energi untuk menggerakkan turbin yang menyuplai listrik ke pembangkit.

Sejak listrik mengalir ke betang, warga mulai familier dengan perangkat teknologi modern yang serbapraktis.

“Sebelum ada listrik, kami boros dalam pemakaian minyak tanah. Satu keluarga bisa menghabiskan 20 liter sebulan,” kata Agung, 70, ketua adat Betang Sungailung.
       RUMAH PANJANG: Rumah sepanjang 50 m ke samping ini berada di Dusun Sungailung, Desa Sungaiabau, 
Kecamatan Batang Lupar. Sebagian besar penghuni dusun menetap di betang ini. (FOTO: DOK. WWF-INDONESIA)

Bergantung pada hutan
PLTMH Sungailung memanfaatkan aliran air di permukaan sungai. Aliran air ini disadap oleh bendung pengarah (weir), melalui asupan saluran pembawa dan menuju bak pengendap dan penenang. Selanjutnya, air dialirkan melalui pipa ke hilir sungai untuk menggerakkan turbin.

Kapasitas PLTMH sangat bergantung pada debit air sungai. Daya listrik yang dihasilkan akan melemah jika debit air berkurang. Oleh karena itu, kestabilan debit air harus tetap terjamin sepanjang tahun.

Jadi, PLTMH ini juga sebagai ajang pembelajaran konservasi bagi masyarakat. Sebab, jika hutan mereka rusak, air sungai akan mengering sehingga listrik pun padam.

Pengembangan PLTMH ini memang bukan hanya mengutamakan aspek fisik melainkan juga aspek ekologi dan sosial. Sejumlah perencanaan dan persiapan telah dirancang untuk menjamin keberlangsungan fungsi dan manfaat PLTMH tersebut.

“Sesuai kesepakatan warga, setiap keluarga akan dikenai iuran sebesar Rp20 ribu sebulan. Iuran ini untuk membiayai operasional dan perawatan PLTMH,” ujar staf program kehutanan WWF-Indonesia Markus Lasah. (N-3)
aris@mediaindonesia.com


Blog Updated at: 5:03 PM