Kapuas Punye Cerite Kapuas Punye Cerite

Posted by

Nusantara | SELASA, 18 JANUARI 2011  |  MEDIA INDONESIA
MASYARAKAT SUNGAI: Perahu yang ditumpangi warga melintas di Sungai Kapuas, 
dengan latar belakang Kota Pontianak. (FOTO: MI/ARIES MUNANDAR)


Urat nadi kehidupan warga Kalimantan Barat terdegradasi akibat eksploitasi.

Aries Munandar

“SUNGAI Kapuas punye cerite. Bile kite minom aeknye. Biarpun pergi jaoh ke mane, sungguh susah nak ngelupakannye.” Penggalan lirik Aek Kapuas  yang dibuat Paul Putra Frederick, seniman legendaris asal Kalimantan Barat, tersebut bercerita tentang Kapuas. Sungai terpanjang di Indonesia yang diceritakan begitu lekat dengan keseharian warga di wilayah berpenduduk sekitar 4,3 juta jiwa tersebut.

Kapuas membentang sepanjang 1.143 kilometer. Berhulu di Gunung Lawit, Kabupaten Kapuas Hulu, dan bermuara di Desa Jungkat, Kabupaten Pontianak. Ia memiliki ratusan anak sungai dan melintasi sembilan dari 14 kabupaten dan kota di Kalimantan Barat.

“Kami sesekali masih memanfaatkan jasa angkutan sungai untuk mengirim orderan dalam jumlah besar ke wilayah perhuluan. Selain murah, kapasitas angkutan sungai juga lebih besar daripada angkutan darat,” kata XF Asali, distributor pestisida di Pontianak, merujuk pada Kapuas.

Jika dilihat dari udara, kelokan sungai ini menyerupai naga yang meliuk-liuk dan membelah wilayah Kalimantan Barat, dari ujung barat hingga ujung timur.

Umumnya warga Kalimantan Barat bergantung pada kemurahan Kapuas. Selain sebagai jalur transportasi umum dan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, air sungai ini juga menjadi bahan baku bagi perusahaan daerah air minum (PDAM).

Cerita, legenda, atau mitologi seputar sungai ini tumbuh subur di berbagai kelompok masyarakat. Termasuk kepercayaan akan tuah Kapuas bahwa siapa pun yang pernah meminum airnya walau hanya seteguk akan susah melepas ingatan akan aliran tersebut. Seperti dikisahkan lagu Aek Kapuas.

“Saya sudah belasan tahun tinggal di Pontianak. Mungkin karena banyak meminum air Kapuas, sehingga betah di sini,” kata Andi Fachrizal, 39, perantau asal Makassar, Sulawesi Selatan.
Topografi Sungai Kapuas sangat rendah, yakni sekitar 0-50 meter dari permukaan laut. Jika kelestarian alam di sekitarnya terganggu, akan mudah meluap.”
                  Gusti Zakari Anshari Peneliti Lahan Basah Universitas Tanjungpura
Meluap
Toh, meski membawa berkah, Kapuas belakang hari juga mendatangkan bencana. Banjir besar melanda sejumlah wilayah di Kalimantan Barat dalam beberapa tahun terakhir akibat luapan Kapuas.

Perilaku banjir juga telah berubah dan menunjukkan kecenderungan meluas. Baik kuantitas maupun kualitasnya.

Sebutlah, Sintang yang mengalami setidaknya enam kali banjir besar tahun lalu. Kemudian, banjir setinggi 2 meter yang menenggelamkan 20 dari 23 kecamatan di Kapuas Hulu pada awal Oktober 2010.

Banjir besar juga melanda Kota Pontianak, yang wilayahnya dekat dengan muara Kapuas. Luapan Kapuas di pekan kedua Desember 2010 itu menghanyutkan dua rumah dan merusak 14 rumah lainnya.

Banjir yang mengakibatkan sekitar 200 warga mengungsi ini tercatat sebagai banjir terparah yang melanda Pontianak dalam 10 tahun terakhir.

“Banjir di Pontianak memang akibat cuaca ekstrem. Namun, dampaknya mungkin tidak akan sebesar itu jika kondisi alam di perhuluan Kapuas masih bagus,” kata Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalimantan Barat Hendi Chandra.

Menurut Hendi, banjir di Sintang, Pontianak, dan Kapuas Hulu hanya contoh kecil dampak dari meluapnya Kapuas.

Sebab, sepanjang tahun lalu, sebagian besar wilayah yang dilintasi Kapuas atau anak sungainya juga dilanda banjir.  Termasuk daerah yang sebelumnya aman dari luapan Kapuas.

Hendi menyimpulkan, ini adalah dampak dari terganggunya keseimbangan ekologi di aliran Kapuas dan daerah sekitarnya.

“Topografi Sungai Kapuas sangat rendah, yakni sekitar 0-50 meter dari permukaan laut. Jika kelestarian alam di sekitarnya terganggu, akan mudah meluap,” kata Ketua Pusat Penelitian Keanekaragaman Hayati dan Masyarakat Lahan Basah, Universitas Tanjungpura, Pontianak, Gusti Zakari Anshari.

BERENANG: Anak-anak yang bermukim di sekitar Sungai Kapuas biasa mandi dan berenang di aliran tersebut
setiap pagi dan sore hari. Kapuas membentang sepanjang 1.143 kilometer. Berhulu di Gunung Lawit, Kabupaten 
Kapuas Hulu, dan bermuara di Desa Jungkat, Kabupaten Pontianak. (FOTO: MI/ARIES MUNANDAR)
Kerusakan ekologi di Sungai Kapuas juga disebut-sebut akibat eksploitasi alam di sepanjang aliran dan kawasan sekitarnya.

Walhi Kalbar mencatat sebagian besar atau sekitar 13,31 juta dari 14,86 juta hektare daerah aliran sungai (DAS) di daerah ini terdegradasi akibat eksploitasi.

Perinciannya, sekitar 1,34 juta ha sangat kritis dan 2,10 juta ha kritis. Sementara itu, sekitar 6,14 juta ha hampir kritis dan 3,73 juta ha berpotensi kritis.

“Hanya 1,55 juta ha (sekitar 10,43%) DAS di Kalbar dalam kondisi baik, sedangkan sebagian besar rusak dengan berbagai tingkatan,” ungkap Hendi.

Konversi hutan menjadi lahan perkebunan, dan kegiatan pertambangan emas liar dituding menjadi penyebab utama kerusakan DAS di Kalimantan Barat.

Kedua aktivitas ini mengakibatkan pendangkalan dan erosi, sehingga alur sungai menyempit dan tidak mampu menampung luapan air hujan.

“Sebagian DAS di Kalbar berlahan gambut. Penggundulan DAS juga bisa menimbulkan kekeringan karena berkurangnya daerah tangkapan air,” jelas Zakaria, yang juga Ketua Forum DAS Kapuas.

Belum lagi persoalan tambang emas yang ada di darat maupun di badan sungai ini, yang mencemari aliran Kapuas.

Limbah merkuri atau air raksa, yang digunakan dalam proses pemisahan bongkahan tanah dengan serbuk atau butiran emas, langsung dibuang penambang ke sungai.

Walhi dan beberapa lembaga riset pernah merilis hasil penelitian mereka mengenai tingkat pencemaran merkuri di Sungai Kapuas.

Hasilnya, kandungan merkuri di beberapa titik di alur sungai mencapai 1,07-1,39 per juta partikel (ppm). Melampaui batas toleransi, yakni di bawah 0,001 ppm.

Sebab, pada kenyataannya, pertambangan emas liar sampai saat ini masih marak. Menurut perkiraan Hendi, luas areal pertambangan mencapai sekitar 6.613 ha di 267 lokasi di sejumlah kabupaten. (N-3)
aris@mediaindonesia.com


Blog Updated at: 4:33 PM