Harapan di Akhir Penantian Panjang

Posted by

Nusantara | RABU, 12 JANUARI 2011  |  MEDIA INDONESIA
PINTU MASUK: Pos Pemeriksaan Lintas Batas Aruk, di Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, resmi beroperasi awal Januari 2011. Pos Aruk merupakan pintu masuk kedua ke Malaysia di Kalimantan Barat setelah Entikong. (Foto: MI/Aries Munandar) 
Awal 2011, Pos Pemeriksaan Lintas Batas Aruk, Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas, resmi beroperasi.


Aries Munandar

BURHANUDDIN A Rasyid semringah. Bupati Sambas, Kalimantan Barat, itu tidak henti mengembangkan senyumnya kepada tetamu yang datang.

Bangga dan bahagia menyelimuti perasaan bupati yang telah memimpin Sambas selama dua periode itu.

“Saya selaku bupati beserta masyarakat Sambas sangat bersyukur pada hari ini. Apa yang kami tunggu-tunggu dan perjuangkan selama ini akhirnya bisa terwujud,” kata Burhanuddin.

Hari itu, tepat di awal 2011, Pos Pemeriksaan Lintas Batas (PPLB) Aruk di Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas, resmi beroperasi. Sebuah seremoni digelar di PPLB Biawak, Serawak, Malaysia, yang bersebelahan dengan PPLB Aruk, menandai peresmian kedua pintu masuk ke kedua wilayah beda negara tersebut.

Pembukaan PPLB yang berjarak sekitar 90 kilometer dari Kota Sambas itu adalah buah perjuangan panjang. Butuh waktu puluhan tahun untuk mewujudkan impian tersebut. Bahkan, agenda peresmian yang dijadwalkan sejak dua tahun lalu selalu tertunda karena berbagai kendala.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kalimantan Barat Fathan A Rasyid menyatakan pembukaan PPLB Aruk telah dirintis sejak kesepakatan dalam Forum Kerja Sama Sosial-Ekonomi Malaysia-Indonesia (Sosek Malindo) pada 1983.

Ada dua pintu masuk resmi yang disepakati untuk dibuka, yakni Entikong, Kabupaten Sanggau-Tebedu, Serawak, dan Aruk, Sambas-Biawak, Serawak. PPLB Entikong-Tebedu diresmikan pada 1992 dan menjadi pintu resmi pertama di perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan Barat.

“Dalam tempo 18 tahun setelah peresmian border (PPLB) di Entikong, baru dibuka satu lagi PPLB baru, yakni di Aruk,” kata Fathan.

Ia mengungkapkan banyak faktor yang menjadi kendala sehingga PPLB Aruk baru bisa diresmikan pada awal tahun ini. Di antaranya menyangkut persoalan bujet dan prasarana serta personel yang harus disiapkan kedua pihak.

“Ada sistem teknologi informasi, infrastruktur, dan regulasi yang semuanya harus disiapkan secara komprehensif,” ungkap Fathan.

Jadi kubangan
Pembukaan PPLB Aruk memberikan secercah harapan baru dalam mengatasi ketertinggalan dan keterisolasian wilayah. Optimisme itu muncul karena akses perdagangan dan jasa dari kedua negara serumpun tersebut kini semakin terbuka.

Berbagai program pembangunan pun telah dilancarkan pemerintah, untuk menyongsong geliat perekonomian di wilayah perbatasan ini. Di antaranya, penyiapan sumber daya manusia melalui penyediaan fasilitas pendidikan dan kesehatan.

“Dahulu di Aruk hanya ada satu sekolah dasar. Kini, sudah ada SMA dan SMK. Kualitas pendidikan di (Kecamatan) Sajingan Besar juga melonjak dari rangking 19 menjadi rangking empat se-Kabupaten Sambas,” jelas Burhanuddin.

Kendati demikian, masih banyak tugas yang harus diselesaikan pemerintah untuk mewujudkan harapan masyarakat itu. Sebutlah soal jalan akses ke Aruk yang saat ini baru sekitar 8 kilometer beraspal mulus. Selebihnya berlubang dan masih berupa jalan tanah merah.

Kondisi itu dapat mengganggu kelancaran arus transportasi karena beberapa ruas jalan berubah menjadi kubangan di saat musim penghujan. Jika sudah begitu, hanya kendaraan bermotor roda empat bergardan ganda yang bisa menuju lokasi perbatasan.

Kondisi jalan rusak tidak hanya di sebelah Indonesia, tetapi juga di sebelah Malaysia. Berdasarkan pemantauan Media Indonesia, terdapat sekitar 40 kilometer jalan dari PPLB Biawak menuju Kota Kuching yang becek dan berlubang. Namun, proyek perbaikan jalan di Malaysia sudah dimulai sejak beberapa waktu lalu.

PERIKSA PASPOR: Petugas memeriksa paspor warga yang akan masuk atau keluar Indonesia di Pos Pemeriksaan Lintas Batas Aruk,
                                  di Sajingan Besar, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, pekan lalu. (Foto: MI/Aries Munandar)
Sokongan ADB
Burhanuddin memastikan kondisi jalan di wilayahnya juga akan segera diperbaiki mulai bulan depan. Proyek senilai Rp350 miliar itu ditargetkan rampung pada pertengahan tahun depan.

“Kalau saya tidak keliru, dananya dari Asian Develepoment Bank (ADB). Proyeknya sudah ditenderkan pemerintah pusat,” ujar mantan penyuluh pertanian itu.

PPLB Aruk sebelumnya hanya berupa pintu pelintasan tradisional. Hanya warga setempat dan pemilik tanda masuk khusus yang dibebaskan keluar-masuk melalui pelintasan ini. Namun, jangkauan bepergian mereka dibatasi di sekitar wilayah perbatasan karena tanda masuk itu tidak berlaku sebagai paspor.

Untuk masuk dengan mengenakan paspor, mereka, seperti warga Kalbar lainnya, harus melalui PPLB Entikong. Butuh waktu seharian untuk menempuh perjalanan dari Aruk ke Entikong dengan kendaraan bermotor.

“Selama ini setiap hari rata-rata ada 30 orang dari wilayah Indonesia yang melintas di sini, dengan mengunakan pas (tanda masuk). Dari Malaysia, sekitar 10 orang,” kata Wakil Kepala Kantor Pelayanan Imigrasi Biawak Mauris Dapot.

Pembukaan PPLB Aruk sedia nya akan dilakukan bersama PPLB Badau di Kabupaten Kapuas Hulu. Namun, PPLB Badau baru bisa diresmikan pada tahun depan karena masih menunggu kesiapan pihak Malaysia.

“Ada masalah dalam pengerjaan PPLB mereka. Namun, sudah kami (beri) deadline, Februari 2012 pengerjaannya harus selesai,” ungkap Fathan.

Sementara itu, Gubernur Kalimantan Barat Cornelis menyatakan pembukaan pintu masuk resmi ke Malaysia juga memiliki nilai kemanusiaan tinggi. Banyak warga di kedua perbatasan yang masih bersaudara atau memiliki ikatan kekerabatan. (N-1)
aris@mediaindonesia.com


Blog Updated at: 3:12 PM