Tertinggal Jauh dari Kongo

Posted by

Fokus Nusantara |  RABU, 1 DESEMBER 2010  |  MEDIA INDONESIA

PENEBANGAN hutan dan ramah lingkungan adalah dua hal yang sering kali berlawanan. Namun, dengan sertifikasi pengelolaan hutan lestari, jurang di antara keduanya bisa dijembatani.

Sertifikasi menuntun perusahaan kayu menebang, tapi tetap mampu memelihara kelestarian lingkungan. Ada ceruk besar perdagangan kayu internasional jika kayu yang dijual berlabel ramah lingkungan.


Namun, peluang itu tidak membuat perusahaan hak pengusahaan hutan langsung menangkapnya.

Penyedia sertifikasi, Lembaga Ekolabel Indonesia, mencatat baru 1,1 juta hektare areal hak pengusahaan hutan yang besertifikat ramah lingkungan. Luasan itu hanya 4,12% dari total hak pengusahaan di Indonesia yang mencapai 26,69 juta hektare. Sebaliknya, luasan hutan tanaman industri besertifikat hanya 704,20 ribu hektare atau sekitar 8% dari total 8,78 juta hektare. Indonesia kalah jauh jika dibandingkan dengan Kongo, yang memiliki 8 juta hektare hutan alam besertifikat.

“Selain Lembaga Ekolabel, skema sertifikasi produk kayu di Indonesia juga ditawarkan Forest Stewardship Council,” kata Koordinator Global Forest and Trade Network Indonesia Aditya Bayunanda.

Banyak faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat partisipasi dalam program sertifikasi. Mulai rumitnya persyaratan, kemampuan keuangan dan rendahnya komitmen perusahaan, hingga ketidakpahaman manajemen mengenai cara dan manfaat sertifikasi.

Sertifikasi juga memiliki konsekuensi berupa pengeluaran tambahan bagi perusahaan. Padahal, tidak semua perusahaan perkayuan di Indonesia dalam kondisi sehat dan berproduksi secara optimal.

Selain itu, sertifikasi memakan waktu lama sehingga menguras konsentrasi pihak manajemen. Salah satu perusahaan hak pengusahaan hutan di Kalimantan Timur, misalnya, harus menunggu selama 15 tahun untuk mendapat sertifikat.

“Ada bujet yang harus dikeluarkan, yang besarnya bervariasi. Tapi, rata-rata tidak lebih dari 10% dari biaya operasional perusahaan selama satu tahun,” ungkap Koordinator Pengelolaan Hutan Bertanggung Jawab GFTN-Indonesia Joko Sarjito.

Proses waktu sertifikasi juga bergantung pada kesiapan dan komitmen perusahaan. Umumnya berlangsung 3-5 tahun.

“Bikin repot itu sudah pasti. Tapi, perusahaan butuh  image Go Green agar produk kami laku di pasaran dunia,” kata Kepala Biro Pembinaan dan Penge lolaan Lingkungan PT Alas Kusuma Group IBW Putra, salah satu perusahaan yang sudah mengantongi sertifikat.

Joko memastikan sertifikasi adalah sistem yang bekerja untuk keseimbangan alam sehingga tidak hanya berorientasi pada produksi semata.
MENJALANI SERTIFIKASI: Kayu-kayu gelondongan milik PT Suka Jaya Makmur (SJM). 
PT SJM merupakan perusahaan HPH di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat,
yang menjalani sertifikasi pengelolaan hutan lestari   
Standar ganda
Peserta program sertifikasi produk kayu di Indonesia umumnya membidik pangsa pasar di Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang. Amerika Serikat dan Jepang tercatat sebagai negara pengimpor  plywood tropis terbesar di dunia, dengan volume perdagangan masing-masing mencapai sekitar 3,5 juta dan 1,5 juta meter kubik  per tahun. Sebagian besar kebutuhan kayu itu, antara lain, di pasok dari China dan Malaysia.

Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia alias FAO menempatkan Malaysia sebagai pengekspor kayu bulat, kayu gergajian, dan  plywood tropis terbesar di dunia pada 2004-2007. Total volume ekspor kayu bulat dan plywood negeri jiran ini selama kurun waktu itu mencapai 20 juta meter kubik dan 18 juta meter kubik.

Pada 2007, Indonesia hanya mampu mengekspor 3,1 juta meter kubik dari total kebutuhan kayu dunia 220 juta meter kubik.

Pasar Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang menghendaki produk kayu besertifikat ramah lingkungan. Negara-negara itu dituding memberlakukan standar ganda bagi China dan Malaysia. Maklum, kayu dari dua negara itu dinilai belum memenuhi standardisasi produk ramah lingkungan. Bahkan, diyakini sebagai hasil curian dari Indonesia.

Tudingan miring itu wajar karena potensi China dan Malaysia jauh di bawah kapasitas produksi mereka. (AR/N-3)


Blog Updated at: 12:23 PM