Berburu Kayu Ramah Lingkungan

Posted by

Fokus Nusantara |  RABU, 1 DESEMBER 2010 MEDIA INDONESIA
MEMINDAI KAYU: Jaeni memindai label pada kayu hasil tebangan
dengan  handle remote capture. Pemindaian dilakukan untuk
mengetahui identitas dan asal-usul kayu



Sertifikasi kayu jadi tuntutan dunia. Sejumlah lembaga menyediakan jasa, tetapi baru sedikit pengusaha hutan Indonesia yang mau memalingkan muka.


DATA asal usul kayu langsung terekam saat Jaeni memencet salah satu tombol pada handle remote capture yang digenggamnya. Kepala Bagian Produksi PT Suka Jaya Makmur tengah memindai label yang menempel pada kayu gelondongan hasil tebangan.

Ada ratusan kayu di tempat penimbunan milik perusahaan yang bermarkas di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, itu. Kebanyakan kayu berukuran panjang 8 meter dan berdiameter 60 sentimeter. Pada setiap pangkal gelondongan terdapat label  barcode warna biru.

Kode pada label itu akan terbaca melalui pemindaian yang dilakukan Jaeni. Hasil pemindaian, antara lain, memuat data jenis, volume, dan diameter kayu serta lokasi tebangan. Data itu tersaji pada monitor handle remote capture.

“Perangkat ini bisa mengecek dari tunggul mana saja hasil tebangan berasal karena setiap kayu memiliki nomor penebangan,” kata Jaeni.

Pemindaian dilakukan untuk memastikan bahwa kayu hasil tebangan sesuai dengan persyaratan legalitas. Proses verifikasi ini bagian dari sistem informasi penatausahaan hasil hutan yang diterapkan pemerintah untuk menekan praktik pembalakan liar.

Hasil lacak balak melalui pemindaian terintegrasi secara daring dengan situs  http://puhh.dephut.go.id, yang dikelola Kementerian Kehutanan. Situs itu dapat diakses publik sehingga masyarakat bisa ikut mengawasi.

“Dua kali dalam sebulan kami mengunggah datanya. Data itu tidak bisa dikarang karena harus sesuai laporan hasil produksi dari petak tebangan,” lanjut Jaeni.

Sistem informasi penatausahaan hasil hutan yang telah diujicobakan sejak 2007 itu kini wajib diterapkan setiap perusahaan pemegang hak pengusahaan hutan yang memproduksi kayu di atas 60 ribu meter kubik per tahun.

Label internasional
PT Suka Jaya Makmur beroperasi di Kalimantan Barat sejak 1979. Lahan konsensi perusahaan mencapai 171,34 ribu hektare di Kecamatan Nangatayap, Ketapang.

Selain mengadopsi aturan Kementerian Kehutanan, anak perusahaan PT Alas Kusuma Group itu telah mengantongi sertifikat serupa dari sebuah lembaga sertifikasi nasional. Sertifikasi itu menjadikan perusahaan berwenang untuk mengesahkan sendiri rencana kerja tahunan (RKT) penebangan, tanpa harus melalui dinas kehutanan. Kewenangan itu diberikan karena perusahaan dinilai telah mampu menerapkan sistem pengelolaan hutan secara lestari.

Itu belum cukup. Suka Jaya Makmur juga tengah berupaya mendapat sertifikat pengelolaan hutan lestari dari Forest Stewardship Council, lembaga sertifikasi internasional yang berkedudukan di Bonn, Jerman. Pasar kayu internasional yang menggiurkan juga membuat perusahaan itu ikut bergabung dalam Global Forest and Trade Network, yang berafiliasi ke World Wide Fund for Nature.

“Kami ingin produk kami go international dan diterima pasar dunia. Oleh karena itu, kami mengikuti beberapa program sertifikasi,” aku Manajer Pembinaan Hutan, Lingkungan, dan Penelitian PT Suka Jaya Makmur, Joko Widyanto.

Global Forest dibentuk untuk mempromosikan, memediasi, serta memfasilitasi penerapan pengelolaan hutan lestari berstandar internasional. Di Indonesia, jaringan dibentuk pada 23 Oktober 2003 dan sekarang sudah 40 perusahaan yang bergabung. Mereka terdiri dari perusahaan hak pengusahaan hutan, hutan tanaman dan industri pengolahan kayu besertifikat atau dalam proses sertifikasi Forest Stewardship Council.

Lembaga itu mengatur perusahaan berhak mengantongi sertifikat jika sudah menerapkan standar verifikasi legalitas kayu, produk yang dihasilkan bukan berasal dari pembalakan liar, dan perusahaan tidak terlibat konflik serta praktik kejahatan lingkungan.

Tuntutan global
Pangsa kayu besertifikat di pasaran internasional masih relatif kecil, yakni hanya sekitar 10% dari volume perdagangan produk kayu dunia. Namun, kayu besertifikat ramah lingkungan saat ini menjadi produk yang paling dicari dan diminati pasar karena memiliki nilai jual tinggi.

“Perusahaan yang dalam proses sertifikasi saja, produknya sudah dihargai mahal, naik sekitar 10%-20%,” kata Kepala Biro Pembinaan dan Pengelolaan Lingkungan PT Alas Kusuma Group IBW Putra.

Tren permintaan konsumen dunia terhadap produk kayu berlabel ekologis alias  ecolabelling juga terus meningkat.  Kebutuhan dan tuntutan global terhadap produk kayu ramah lingkungan kemudian direspons kalangan produsen. Mereka beramai-ramai mengikuti program sertifikasi pengelolaan hutan berkelanjutan.

Forest Stewardship telah menerbitkan 1.025 sertifikat untuk areal hutan seluas 133,52 juta hektare di 79 negara. Eropa menjadi wilayah terluas, dengan hutan besertifikat seluas 59,14 juta hektare, Amerika Utara sekitar 49,39 juta hektare, dan Asia 3,42 juta hektare, serta Oceania seluas 1,64 juta hektare.

Menurut Joko,  ecolabelling memberikan jaminan kepada para pembeli bahwa produk kayu yang ditawarkan bukan hasil pembalakan liar atau praktik perusakan lingkungan. “Pembeli tidak ingin dituding sebagai penampung kayu ilegal dan ikut berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan.” (N-3)
aris@mediaindonesia.com


Blog Updated at: 12:57 PM