Terjerat Cuaca, Dihantui Pencuri Ikan

Posted by

Nusantara |  SELASA, 30 NOVEMBER 2010  |  MEDIA INDONESIA


Kapal penangkap ikan tradisional tidak sanggup menghadapi terjangan ombak setinggi 2-3 meter di sekitar perairan Natuna, yang menjadi wilayah tangkapan favorit para nelayan Sungaikakap

Aries Munandar

DI geladak sebuah kapal motor tradisional, sekelompok nelayan asyik bercengkerama. Menghabiskan waktu. Tawa dan canda mereka melebur di antara riuh rendah kesibukan dermaga, serta deru perahu yang hilir-mudik.

Belakang hari, aktivitas nelayan Kecamatan Sungaikakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, lebih banyak dihabiskan di darat ketimbang di laut. Jika tidak memperbaiki perahu atau peralatan penangkapan ikan, mereka bersantai di sekitar dermaga.

Kondisi cuaca yang tidak menentu mengakibatkan mereka terpaksa menambatkan kapal.

Kapal penangkap ikan tradisional yang terbuat dari kayu itu jelas tidak akan sanggup menghadapi terjangan ombak setinggi 2-3 meter di sekitar perairan Natuna, yang menjadi wilayah tangkapan favorit para nelayan Sungaikakap. “Kapal saya tidak bisa maju (bergerak) saat dihadang ombak besar sehingga terpaksa merapat ke pulau terdekat hingga dua hari lamanya,” kata Jafri, 27, salah seorang nelayan.

Jafri telah melaut sejak masih berusia 10 tahun. Ia merasa kondisi cuaca saat ini paling ekstrem jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Akibatnya, Jafri setahun terakhir hanya mampu melaut selama tujuh bulan, sedangkan selebihnya menganggur tanpa pendapatan.

Jika sudah begini, mereka terpaksa berutang kepada majikan atau pemilik kapal. Utang itu akan dilunasi ketika mereka sudah memperoleh uang dari hasil melaut.

Dampak dari kondisi cuaca yang tidak menentu juga dirasakan para pedagang ikan setempat. Omzet mereka saat ini anjlok hingga lebih dari separuh akibat menurunnya hasil tangkapan nelayan.

“Sudah sekitar dua bulan ini, hasil jualan sepi karena ikan berkurang. Pendapat pun jadi menurun hingga lebih dari 50% daripada biasanya,” ungkap Derani, 30, pedagang ikan.

Pencuri ikan
Di tengah kekhawatiran para nelayan tradisional terhadap cuaca buruk, aktivitas pencurian ikan di sekitar wilayah tangkapan mereka justru terus berlangsung. Bahkan, ditengarai semakin marak. Para pencuri ikan adalah nelayan asing dari Thailand, Vietnam, China, dan Malaysia.

Data Stasiun Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (SPSDKP) Pontianak, Kalimantan Barat, menyebutkan terdapat sekitar 132 kapal nelayan asing yang ditangkap dalam berbagai operasi yang digelar pada tahun ini.

Kapal-kapal tersebut mencuri ikan di wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia. Beberapa di antara kapal nelayan asing ini bertonase besar, yakni hingga 300 gros ton dan dilengkapi berbagai peralatan canggih.

Di antaranya, radar, peralatan pemantau cuaca melalui satelit, alat penangkap ikan modern, dan pemecah gelombang sehingga ombak setinggi 3 meter bukan menjadi halangan untuk menjarah perairan Indonesia.

“Kalau dihantam ombak besar, paling kapal mereka (nelayan asing) hanya oleng sedikit,” kata Kepala SPSDKP Pontianak Bambang Nugroho.

Ketakutan para nelayan tradisional untuk melaut akibat cuaca buruk menyebabkan nelayan asing semakin leluasa beroperasi karena tanpa saingan. Celakanya, dalam kondisi seperti itu pengawasan dari aparat juga semakin kendur karena kapal mereka pun tidak mampu menghadapi keganasan ombak di Laut Natuna.

“Kalau kondisi cuaca buruk, otomatis kapal pengawas perikanan kami juga berhenti beroperasi. Jika dipaksakan, kapal bisa pecah dihantam ombak besar,” ungkap Bambang.

Kapal pengawas perikanan yang diperbantukan di SPSDKP Pontianak sebanyak tujuh armada. Wilayah operasional mereka meliputi kawasan perairan di lima provinsi di Sumatra dan Kalimantan.

Kapal speed boat yang terbuat dari bahan serat kaca itu hanya memiliki kemampuan jelajah sejauh 4 mil dari garis pantai. Jadi, kapal seperti ini sebenarnya tidak layak beroperasi di laut lepas.

“Kapal kami sebenarnya hanya cocok beroperasi di perairan antarpulau (dangkal) dan dalam kondisi laut tenang,” jelas Bambang.

Menurutnya, SPSDKP Pontianak idealnya harus memiliki minimal 21 armada bertonase besar dan berkecepatan di atas 25 knot sehingga mampu menyaingi kemampuan kapal pencuri ikan.

Perubahan cuaca
Perubahan cuaca di sekitar perairan Natuna saat ini berlangsung cepat, baik frekuensi maupun intensitasnya. Perubahan itu semakin sulit diprediksi karena bisa terjadi secara tiba-tiba dan dalam hitungan jam.

Kepala Subbidang Informasi Meteorologi Maritim Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofi  sika (BMKG) Sugarin mengatakan ombak besar di sekitar perairan Kalbar itu dipicu badai tropis yang terjadi di Laut China Selatan.

“Ombak di Laut China Selatan saat ini bisa mencapai 4-5 meter dan dampaknya akan terasa hingga ke perairan Kalbar. Terutama di sekitar wilayah pantai sebelah barat,” kata Sugarin saat dihubungi Media Indonesia melalui telepon, Jumat (26/11).

Fenomena kekerapan cuaca ekstrem di perairan Kalbar telah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir. (N-4)
aris@mediaindonesia.com


Blog Updated at: 10:21 AM