Listrik dari Limbah Sawit

Posted by

Green Concern  MINGGU, 24 Oktober 2010  |  MEDIA INDONESIA

Pengurangan emisi sebetulnya dapat juga dilakukan jika biogas dari tandan kosong itu ikut dimanfaatkan.


Aries Munandar

LAYAKNYA setiap usaha yang tidak luput dari persoalan limbah, begitu pula perkebunan kelapa sawit. Buah sawit tidak seluruhnya dapat diolah menjadi minyak kelapa sawit mentah atau  crude palm oil (CPO).

Tandan kosong kelapa sawit akan menjadi sampah yang lama-kelamaan terus menumpuk di kebun. Ini pula yang terlihat di antara pepohonan kelapa sawit di Kecamatan Parindu, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat.

Saat Media Indonesia berkunjung ke kebun PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XIII, awal Oktober, tandan kosong dibiarkan mengering dan membusuk.

Setiap harinya, kebun menerima kembali sekitar 240 ton tandan kosong dari pabrik pengolahan CPO yang juga berada dalam kawasan itu. Volume limbah tersebut adalah 20% dari kapasitas produksi harian pabrik, yakni 1.200 ton tandan buah segar (TBS).

Memang, tandan kosong yang kaya akan nitrogen ini dapat dimanfaatkan kembali.  “Kompos tandan kosong bisa dimanfaatkan sebagai media penyubur tanaman sehingga menekan penggunaan pupuk kimia,” kata General Manager PTPN XIII Distrik Kalbar II Pandopotan Girsang, saat ditemui di kebun, Selasa (5/10).

Belum semua tandan kosong di kebun Parindu dimanfaatkan sebagai pupuk karena pertimbangan ekonomis. Banyak di antara limbah itu akhirnya dimusnahkan dalam mesin pengolah sampah atau incinerator.

“Pemanfaatannya terbatas untuk kebun di sekitar lokasi pabrik. Jika terlalu jauh, ongkos angkutnya lebih mahal daripada membeli pupuk (kimia),” ujar Direktur Perencanaan dan Pengembangan PTPN XIII Memed Wiramihardja.

Potensi limbah tandan kosong kelapa sawit di Kalimantan Barat  diperkirakan  
mampu menghasilkan energi listrik untuk 57 ribu lebih pelanggan.
Energi alternatif
Namun tidak lama lagi tumpukan tandan kosong mungkin akan sulit ditemui di kebun kelapa sawit seluas 12.505 hektare lebih itu. Pasalnya, PTPN XIII tengah menjajaki pemanfaatan limbah tersebut menjadi bahan baku pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

“Listrik yang dihasilkan seluruhnya akan dijual dan didistribusikan oleh PLN,” kata Memed.

Nota kesepahaman bersama (MoU) dengan PLN sendiri telah ditandatangani di Jakarta pada pertengahan tahun ini. Berdasarkan kajian sementara, potensi energi listrik yang dihasilkan dari limbah pabrik ini diperkirakan mencapai 4 megawatt (Mw).

Jika diasumsikan konsumsi listrik rata-rata rumah tangga di Kalbar sekitar 1.000 watt, potensi listrik dari tandan kosong ini dapat menerangi 4.000 rumah tangga. Tentunya suatu hal yang sangat berharga ketimbang sekadar menambah emisi CO2 ke udara.

Prastudi kelayakan proyek ini ditargetkan rampung pada November dengan kajian berbagai model dan tipe pengembangan secara aplikatif. Termasuk, kemungkinan mengintegrasikan sistem pembangkit dengan pabrik pengolahan kelapa sawit sebagai pemasok kebutuhan bahan baku, sehingga lebih praktis dan ekonomis.

Potensi listrik yang lebih besar lagi dapat dihasilkan jika memperhitungkan 21 pabrik pengolahan minyak sawit lainnya di Kalbar.

Dengan perkiraan kasar kapasitas produksi serupa dengan pabrik PTPN XIII itu, yakni 1.200 ton, pabrik ini juga dapat membangun PLTU serupa dan dari situ Kalbar bisa mendapat tambahan 84 Mw daya listrik.

Kapasitas ini cukup untuk menutupi kekurangan daya listrik di Kalbar yang sekitar 60,87 Mw atau setara dengan 57.040 sambungan pelanggan.

Biogas
Teknologi limbah tandan kosong sebagai bahan bakar PLTU sebenarnya bukan baru. Direktur Sumber Daya Manusia dan Umum PTPN XIII Wagio R Sumarto sendiri mengatakan penjajakannya bahwa sejumlah pabrik kelapa sawit Tanah Air telah lebih dulu menerapkannya.

Teknologinya juga terbilang sederhana. Pertama, tandan kosong dihaluskan dengan mesin pencincang.

Setelah itu, menjadi pemanas ketel uap air. Uap ini selanjutnya akan menggerakkan turbin pada generator sehingga menghasilkan energi listrik. Abu hasil pembakaran kompos tersebut masih dapat dijadikan pupuk di kebun karena tetap banyak mengandung kalsium.

Sementara itu, gas metana yang secara alamiah dihasilkan dalam proses pembusukan dan menghasilkan efek rumah kaca lebih besar dari CO2 tidak dimanfaatkan sebagai penggerak turbin.

Padahal, teknologi pembangkit listrik dengan biogas ini sekarang lebih banyak menjadi pilihan untuk pemanfaatan limbah organik, salah satu contohnya di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang.

“Memang teknologi kami belum sampai ke sana (pemanfaatan metana), tapi kami juga inginnya nanti bisa memanfaatkan biogasnya,” kata Wagio yang dihubungi via telepon.

PTPN yang juga berniat membuat PLTU di Pelaihari, Kalsel, baru menjajaki pemanfaatan gas metana dari limbah cair CPO. Limbah cair yang merupakan minyak kualitas rendah ini, selain bisa diolah untuk biodiesel, juga bisa diambil biogasnya.

Menurut perkiraan mereka, pemanfaatan gas metana ini hanya bisa menghasilkan tambahan listrik 1 Mw. Namun, ini adalah langkah menjadikan limbah lebih bermanfaat. (M7)
miweekend@mediaindonesia.com


Blog Updated at: 2:19 AM