Ujian Panjang di Tapal Batas (Semunying I)

Posted by


RABU, 22 SEPTEMBER 2010   |   MEDIA INDONESIA  | Fokus Nusantara


Meski berada di perbatasan, nenek moyang warga Semunying Jaya sangat berdarah Indonesia. Kini, anak keturunannya tengah diuji.

Aries Munandar


JAMALUDIN, 48, baru lahir saat konfrontasi Indonesia-Malaysia terjadi pada 1962-1966. Namun, cerita dari orang tua dan kakeknya yang ikut terlibat dalam perang itu tidak pernah hilang dari ingatannya.

“Banyak warga Desa Semunying Jaya terlibat aktif membantu tentara ketika terjadi gerakan Ganyang Malaysia. Mereka berbagi tugas,” kenang Jamaludin.

Ada yang membantu menyiapkan logistik untuk pasukan, menjadi mata-mata, dan ada pula yang berjuang di garis depan. Pengetahuan lapangan yang dimiliki warga juga sangat membantu militer Indonesia dalam menyusun strategi dan melakukan serangan. Ada beberapa warga yang dipersenjatai. Mereka ikut berjuang bersama tentara di garis depan pertempuran.

Cerita heroik itu tidak hanya didengar Jamaludin. Banyak pemuda di Desa Semunying Jaya, Kecamatan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, juga mendapat cerita serupa dari orang tua mereka.

Di dalam pikiran mereka terpatri bahwa perjuangan warga Semunying Jaya dalam mempertahankan kehormatan negeri ini tidak lekang dimakan zaman. Mereka melakoni itu dengan menjaga kedaulatan wilayah Indonesia di tapas batas yang serbaterisolasi dan penuh keterbatasan, tanpa pamrih.

Namun, di balik kisah heroik, Jamaludin juga tidak pernah lupa cerita sedih ketika itu. Kesusahan dan penderitaan hidup di zaman perang itu dirasakannya sejak masih dalam ayunan.

“Saya pernah dilemparkan ibu saya dari ayunan karena mendengar kabar tentara Malaysia telah masuk dan menyerang kampung kami. Ibu sangat ketakutan dan bermaksud menyembunyikan saya,” tuturnya.

Wakil Ketua Badan Perwakilan Desa (BPD) Semunying Jaya ini cucu Jampung, tokoh desa yang berjasa mengorganisasi warga saat konfrontasi. Ia juga membentuk pasukan warga, yang bergerilya dan berjuang di garis depan bersama tentara Indonesia.

“Kakek Jampung adalah kepala suku. Ia berjuang dan memobilisasi kekuatan rakyat untuk mendukung operasi militer,” aku Sekretaris Desa Semunying Jaya Abulipah.

Konfrontasi selesai, tapi ujian untuk warga Semunying belum usai. Warga kembali harus berpeluh membantu tentara pada masa pemberontakan Pasukan Gerilya Revolusioner Serawak/Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (PGRS/Paraku). Mereka dikerahkan untuk membantu operasi penumpasan pemberontakan, yang berlangsung pada 1967-1970.

Semunying kembali dikepung bara perang. Mereka terpaksa bercerai-berai dan meninggalkan anak dan istri untuk masuk lagi ke hutan di sepanjang perbatasan Indonesia-Malaysia. Pemberontakan berhasil dilumpuhkan pada 1970, dan kekuatan militer terus bertahan di desa ini hingga dekade 1980-an.

“Operasi pembersihan baru benar-benar berhenti sekitar 1988, bersamaan masuknya PT Yamaker,” ungkap Kepala Desa Semunying Jaya Momonus.

PT Yamaker atau Yayasan Maju Kerja adalah sebuah perusahaan konsesi penebangan kayu milik Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Perusahaan itu mendapat izin menebang hutan di kawasan sepanjang perbatasan Indonesia-Malaysia, di Kabupaten Bengkayang dan sekitarnya. Yamaker beroperasi hingga 1990-an.

Dicurigai
Saat itu, menurut cerita Momunus, kehidupan warga sangat dibatasi. Tentara selalu mengawasi setiap gerak-gerik dan aktivitas mereka. Militer khawatir warga disusupi atau masih berhubungan dengan sisa gerombolan PGRS/Paraku.

“Pergi ke ladang saja, warga harus dikawal tentara. Kalau tidak begitu, kami tidak diizinkan berladang,” sambungnya.

Selepas masa operasi militer, beberapa warga Semunying Jaya dilibatkan dalam survei dan pembuatan patok batas di sepanjang perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalbar. Darah Indonesia tidak bisa membuat mereka menolak. Perbatasan itu membentang dari utara hingga timur Kalbar sepanjang kurang lebih 966 kilometer, mulai Tanjung Datuk di Kabupaten Sambas hingga Gunung Cemeru di Kabupaten Kapuas Hulu.

Namun, rasa nasionalisme di perbatasan sebenarnya berbanding terbalik dengan realitas kehidupan mereka. Saat ini, warga sangat bergantung pada Malaysia, mulai pemenuhan kebutuhan pokok, listrik, hingga pendidikan dan kesehatan.

“Ketergantungan yang tinggi terhadap Malaysia menjadi ancaman serius bagi pertahanan nasional. Ini berpotensi menimbulkan krisis nasionalisme warga perbatasan,” papar ekonom Universitas Tanjungpura, Pontianak, Edy Suratman.

Tantangan lain, setahun terakhir Semunying Jaya kembali terusik. Warga harus berjuang mempertahankan hutan adat mereka dari perambahan oleh sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit. Hutan seluas 1.420 hektare itu terletak di Gunung Semunying Kolam. Masyarakat yakin perusahaan telah membabat sedikitnya 800 hektare hutan adat mereka untuk dijadikan kebun kelapa sawit.

Sudah beberapa pekan ini, warga memblokade dan berjaga setiap hari agar hutan adat tidak terus dirambah.

“Kawasan hutan itu telah dikukuhkan sebagai hutan adat oleh Bupati (Jacobus Luna) pada 15 Desember 2009,” kata Abulipah.

Eksploitasi hutan juga mengusik Panglima Komando Daerah Militer Tanjungpura Mayor Jenderal Moeldoko. Ia menilai keberadaan hutan sangat memengaruhi fungsi pertahanan negara. “Kondisi kawasan hutan di sepanjang perbatasan Indonesia-Malaysia kritis akibat eksploitasi.”

Kekhawatiran itu boleh jadi makin membesar karena Semunying juga terusik oleh aktivitas pembukaan lahan untuk kebun sawit di perbatasan Malaysia. Perusahaan jiran dengan semena-mena menggeser patok tapal batas, hingga menjorok ke wilayah Indonesia.

Jamaludin mengungkapkan pergeseran batas wilayah terjadi di sepanjang Km 31 di Gunung Pantok hingga Km 47 di Gunung Besi. “Aku pernah ikut tim survei. Aku yakin patok batas sudah bergeser sejauh 1 kilometer.”

Namun, Konsulat Malaysia di Pontianak Mohamad Zairi Bin Mohamad Basri membantah tudingan penyerobotan wilayah Indonesia oleh perusahaan perkebunan kelapa sawit Malaysia. “Kami belum pernah mendengar informasi seperti itu.”

Ulah perusahaan Malaysia itu jelas menantang rasa nasionalisme anak keturunan Jampung. Warna darah warga Semunying memang tidak pernah berhenti diuji. (N-3)
aris@mediaindonesia.com


Blog Updated at: 11:40 AM