Tembawang Riwayatmu Sekarang

Posted by


Nusantara |  SENIN, 20 SEPTEMBER 2010  |  MEDIA INDONESIA


Ladang berpindah tidak selalu merusak lingkungan. Ada aturan dan norma yang diterapkan.

Aries Munandar


 RATUSAN warga berbondong-bondong menuju kawasan hutan Desa Balai Pinang, Kecamatan Simpang Hulu, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Mereka adalah komunitas adat Kayu Bunga Monta Raya yang hendak menggelar upacara tonah colap torunt pusaka, alias ritual pengukuhan hutan adat.

Rombongan ini harus berjalan kaki selama kurang lebih dua jam untuk mencapai lokasi upacara. Medan yang berat, naik turun bukit, tidak menyurutkan semangat.

Ritual tonah colap torunt pusaka dipimpin seorang tetua adat. Ia membacakan doa dan mantra untuk memohon perlindungan dan keberkahan dari Sang Maha Pencipta. Sesajian babi, ayam kampung, dan beberapa hasil tani diletakkan tepat di hadapan tetua adat untuk didoakan.

Rangkaian upacara adat ini berlangsung seharian dan menghasilkan kesepakatan mengenai tata batas hutan adat serta berbagai aturan dan sanksi bagi pelanggar.

Diputuskan, ada tiga lokasi khusus di hutan itu yang disepakati sebagai tempat terlarang, sehingga tidak boleh diganggu siapa pun dan untuk kepentingan apa pun.

Seorang tetua adat melafalkan doa dan mantra
dalam upacara adat 
tonah colap torunt pusaka
Lokasi ini, antara lain, berada di sekitar riam yang menjadi sumber kebutuhan air bersih warga. Selain ketiga lokasi tersebut, beberapa kawasan juga terlarang untuk  diperjualbelikan kepada pihak perusahaan perkebunan atau pertambangan.

Tonah colap torunt pusaka baru pertama kali digelar di sini. Kegiatan ini murni inisiatif dan swadaya warga,” kata Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Ketapang Utara Petrus Apin.

Warga berinisiatif melakukan pengukuhan karena khawatir hutan seluas kurang lebih 100 hektare itu menjadi sasaran eksploitasi. “Hutan adat kami masih utuh dan menjadi kawasan sumber air bersih, bahan pangan, dan tanaman obat-obatan,” kata Petrus yang juga warga Desa Balai Pinang ini.

Hutan tembawang
Hutan adat yang dikukuhkan komunitas Kayu Bunga Monta Raya ini dahulunya adalah sebuah tembawang, yakni lokasi bekas lahan dan permukiman peladang berpindah pada puluhan tahun lalu. Petani tradisional ini menanam berbagai pohon buah dan kayu lokal untuk memenuhi kebutuhan hidup selama berladang.
Upacara adat tonah colap torunt pusaka diakhiri
dengan makan siang bersama  di tengah hutan

Masa menetap sebuah keluarga peladang di suatu lokasi bergantung pada tingkat kesuburan lahan garapan. Jika dianggap sudah tidak subur lagi, mereka pindah ke lokasi baru. Adapun lokasi yang ditinggalkan dan telah ditumbuhi berbagai jenis tanaman buah-buahan dan kayu lokal itu lama-kelamaan menjadi hutan belantara kembali.

“Perpindahan bisa juga karena ada wabah penyakit dan serangan hewan buas atau gangguan makhluk halus. Namun, pola perpindahan itu umumnya mengikuti siklus kesuburan lahan, yakni sekitar 1-5 tahun,” kata Direktur Eksekutif Daerah Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Kalimantan Barat Hendi Candra.

Ladang berpindah juga memberikan kesempatan lahan untuk ‘beristirahat’. Para peladang berpindah itu tidak mengenal pupuk sehingga mereka melakukan cara-cara sederhana untuk meningkatkan kesuburan tanah.

Pengukuhan terhadap bekas tembawang sebagai hutan adat juga dilakukan warga etnik Dayak lainnya di beberapa daerah Kalimantan Barat.

“Di tempat kami nama ritualnya  ngintu menua. Ritual ini dilakukan warga dari enam desa di Kecamatan Senaning (Kabupaten Sintang),” kata Leonardus Nicon, 25, warga Senaning.

Aliran riam di hutan adat Komunitas Kayu Bunga
Monta Raya yang ditetapkan sebagai salah satu kawasan
yang kelestarian lingkungannya wajib dijaga
Ritual ngintu menua dilaksanakan pada akhir Juli lalu untuk mengukuhkan kembali hutan adat di Bukit Bungau. Hutan ini berada di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia. Dalam ritual tersebut, warga memberi ‘makan’ tempat-tempat yang dikeramatkan dengan sesajen.

Tradisi tahunan ini dihidupkan kembali setelah lebih dari 10 tahun vakum. Sejumlah lembaga swadaya masyarakat di Kalbar kini gencar mendorong dan memfasilitasi pelestarian ritual pengukuhan tembawang sebagai hutan adat.

Mereka menyadari keberadaan tembawang semakin terancam seiring perubahan sistem dan pola bercocok tanam warga, yakni dari ladang berpindah menjadi ladang menetap.
Adapun tembawang yang masih tersisa saat ini banyak yang rusak dan terdegradasi. Bahkan tergusur oleh perkebunan  kelapa sawit. (N-4)  
aris@mediaindonesia.com


Blog Updated at: 12:28 PM