Potret Buram di Perbatasan (Semunjing III)

Posted by

RABU, 22 SEPTEMBER 2010   |   MEDIA INDONESIA  | Fokus Nusantara


SEMUNYING Jaya hanya salah satu potret buram dari kondisi umum di perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalbar. Terdapat sekitar 98 desa di provinsi itu yang berbatasan dengan negeri jiran tersebut. Desa-desa itu tersebar di 15 kecamatan di lima kabupaten.



Sebagian besar warga di perbatasan negara itu memiliki persoalan yang nyaris sama, yakni kesenjangan sosial dan ekonomi. Kesenjangan itu terjadi akibat perbedaan mencolok antara pembangunan di wilayah mereka dan di wilayah Malaysia.

Kondisi infrastruktur menjadi salah satu penyebab utama kemiskinan dan ketertinggalan wilayah perbatasan. Dari sekitar 873,14 kilometer (km) jalan akses ke perbatasan di Kalbar, hanya 23,7 km yang baik.

Selain itu, masih terdapat 88,5 km jalan yang belum dibuka. Bandingkan dengan Malaysia yang semua wilayah perbatasannya sudah terhubung dengan jalan paralel. Mereka hanya butuh sekitar 4-5 jam untuk menjangkau titik perbatasan terjauh.

‘’Pembangunan jalan paralel dan jalan penghubung utama ke perbatasan di Kalbar butuh Rp3,5 triliun. Hanya sekitar dua kali lipat dari biaya pembangunan gedung mewah DPR,’’ kata mantan Kepala Badan Persiapan Pengelolaan Kawasan Khusus Perbatasan (BPPKKP) Kalbar Nyoman Sudana.

Senada dengan itu, ekonom dari Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak Edy Suratman mengatakan pendapatan per kapita masyarakat kita di perbatasan rata-rata hanya US$400. Di Malaysia sekitar US$3.600 atau sembilan kali lipat lebih tinggi.

Kehidupan mereka juga sangat bergantung pada dan lebih berorientasi ke Malaysia. Mulai pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari, penerangan listrik, hingga pelayanan pendidikan dan kesehatan. Selain mudah dijangkau, sekolah dan pengobatan di Malaysia memiliki kualitas dan pelayanan yang jauh lebih baik daripada di wilayah Indonesia.

Guru besar ilmu ekonomi itu menilai ketergantungan yang tinggi terhadap Malaysia menjadi ancaman serius bagi pertahanan nasional. Itu berpotensi menimbulkan krisis nasionalisme warga perbatasan.

‘’Mereka lebih banyak merasakan manfaat pembangunan dari Malaysia. Ini bisa menjadi bom waktu yang dapat mengikis nasionalisme warga perbatasan,’’ ujar Edy.

Adapun keberadaan hutan di sepanjang perbatasan Indonesia-Malaysia memiliki peran strategis dalam aspek pertahanan, saat perang maupun damai. Hutan adalah sabuk pengaman bagi kedaulatan dan teritorium negara.

‘’Dampak (aktivitas) penebangan hutan bagi kepentingan militer itu luar biasa karena akan memengaruhi taktik bertempur,’’ kata kata Panglima Komando Daerah Militer (Kodam) Tanjungpura Mayjen Moeldoko.

Pangdam mengatakan kondisi alam yang terbuka akan memudahkan lawan dalam memantau dan mendeteksi setiap pergerakan pasukan Indonesia di perbatasan. Oleh karena itu, keberadaan hutan sangat memengaruhi fungsi pertahanan negara.

Ia mengakui banyak kawasan hutan  di sepanjang perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalbar saat ini dalam kondisi kritis akibat eksploitasi. Di beberapa lokasi bahkan berubah menjadi areal perkebunan kelapa sawit. Di sebelah Indonesia dan Malaysia.

‘’Dua wilayah perbatasan itu tersambung dengan kebun kelapa sawit,’’ ungkapnya.

Ada tiga lokasi di sepanjang perbatasan yang telah berubah menjadi hamparan kelapa sawit itu. Dua lokasi berada di Kabupaten Bengkayang dan satu lokasi lagi di Kabupaten Sanggau. (AR/N-2)


Blog Updated at: 11:20 AM