Pekarangan Tetangga Lebih Benderang (Semunying II)

Posted by


RABU, 22 SEPTEMBER 2010   |   MEDIA INDONESIA  | Fokus Nusantara


TERTINGGAL dan terisolasi. Itulah kesan pertama saat menapak wilayah desa ini.


Semunying Jaya adalah satu dari enam desa di Kecamatan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Desa seluas 18 ribu hektare itu masuk ring atau lini satu perbatasan Indonesia-Malaysia.

Ada tiga kampung di Serawak, Malaysia, yang bertetangga dengan Semunying Jaya, yakni Raso, Selampit, dan Kendai. Enam desa di Jagoi Babang dan tiga desa di Serawak itu terhubung melalui tujuh akses jalan darat.

Salah satunya berupa jalan semipermanen berlapis batu, selebar kurang lebih 6 meter, di sebuah kawasan perkebunan kelapa sawit. Sementara enam jalan lainnya berupa jalan setapak, tetapi bisa dilalui kendaraan bermotor.

Pembangunan di Semunying Jaya yang berpenduduk 385 jiwa itu sangat tertinggal. Infrastrukturnya kalah jauh jika dibandingkan dengan kampung di Serawak, yang berjarak tempuh hanya sekitar 30 menit dengan bersepeda motor.

“Fasilitas di sana (Malaysia) hampir sama dengan fasilitas di kota. Kawasannya juga mudah dijangkau dan terhubung dengan berbagai akses pelayanan masyarakat,” jelas Ketua Badan Perwakilan Desa (BPD) Semunying Jaya Nuh Rusmanto.

Desa di tapal batas ini sulit dijangkau, jika tidak bisa dikatakan terisolasi. Dari ibu kota Bengkayang, butuh waktu seharian untuk menjangkaunya.

Perjalanan harus ditempuh melalui sungai. Ongkos sewa speedboat sekali jalan dengan waktu tempuh sekitar 2,5 jam bisa mencapai Rp700 ribu.

Sewa melambung tinggi ketika air surut karena waktu tempuh menjadi lebih lama. Yang sering terjadi, speedboat tidak berani beroperasi, khawatir kandas di perjalanan.

Jika tidak dari sungai, andalan terakhir adalah ojek sepeda motor. Hanya, ongkosnya bisa mencapai Rp150 ribu sekali jalan. Perjalanan darat terbilang berat karena kondisi jalan rusak parah, masuk hutan dan melalui jalan setapak serta naik-turun bukit.

Semunying Jaya merupakan perkampungan komunitas Dayak Iban satu-satunya di Bengkayang. Perkampungan itu dahulu dikenal sebagai daerah penghasil rotan terbesar.

Ketika itu, seorang kepala rumah tangga mampu mengumpulkan 5 kilogram rotan dari hutan di sekitar tempat tinggal mereka. Sayang, usaha itu meredup seiring dengan laju kerusakan hutan.

“Dulu, kami bisa dapat Rp50 ribu-Rp70 ribu sehari dari hasil berotan. Tapi, sekarang usaha itu berhenti karena hutan sudah gundul semua,” kata Kepala Desa Semunying Jaya Momonus.

Sebagian besar warga desa itu hidup di bawah garis kemiskinan dan berpendidikan rendah. Pergulatan panjang sejak zaman konfrontasi hingga sampai saat ini telah menguras energi dan pikiran. Warga selalu disibukkan dengan upaya mempertahankan eksistensi diri dan wilayah mereka. “Pembangunan desa tidak sempat dipikirkan,” tambah Momonus.

Namun, semuanya itu tidak lantas membuat mereka putus asa dan menyerah. Ada rasa kecewa karena negara tidak bertindak adil. Tapi, nasionalisme dan kecintaan terhadap republik ini mampu mengalahkan itu.

“Kami memang memiliki hubungan kekerabatan yang erat dengan warga Malaysia. Namun, kami tidak mau tergantung, apalagi sampai berniat pindah kewarganegaraan,” kata Nuh Rusmanto.  (Aries Munandar/N-3)


Blog Updated at: 11:30 AM