Konservasi Beraroma Kontroversi

Posted by

Humaniora |  RABU, 18 AGUSTUS 2010  |  MEDIA INDONESIA
JUDUL berita di sebuah harian lokal edisi akhir pekan menggelitik hati Iswono, 42. Ia mencermati kalimat demi kalimat dalam alur cerita pada berita yang memaksanya untuk mengeryitkan dahi.

Koran terbitan Pontianak itu menurunkan berita tentang pelepasan ribuan tukik oleh warga Desa Sebubus, Paloh, Sambas, Kalimantan Barat (Kalbar). Ribuan anak penyu itu adalah hasil penangkaran warga setempat, yang disebut-sebut melibatkan WWF dan jajaran Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar.

“Saat melihat judulnya, semula saya kagum. Namun, setelah menyimak isi beritanya justru menimbulkan kecurigaan,” kata Ketua Perhimpunan Penjelajah Alam Terbuka Sakawana tersebut.

Kecurigaan Iswono cukup beralasan mengingat penangkaran ribuan tukik perlu dana besar dan harus dilakukan tenaga terlatih. Ia menduga kegiatan itu hanya kedok untuk melindungi praktik pencurian telur penyu.

Firasat Iswono seolah mendapat pembenaran setelah ia menerima penjelasan dari koleganya di WWF Kalbar dan salah satu anggota Sakawana. Anggotanya itu pernah menelusuri aktivitas sindikat pencurian telur penyu di Paloh.

“Kegiatan penangkaran dan pelepasan ribuan tukik itu patut diduga didanai dari hasil pencurian telur penyu,” tegas dosen Politeknik Kesehatan Pontianak tersebut.

Pelepasan ribuan tukik ke Pantai Paloh oleh warga Desa Sebubus berlangsung dalam dua tahap, yakni pada Kamis (5/8) sebanyak 1.400 tukik dan Sabtu (7/8) 200 tukik. Kegiatan itu didukung pemerintah daerah setempat.

“Kegiatan ini murni inisiatif warga dan perangkat desa. Kami berswadaya membiayai kegiatan penangkaran penyu, dari penjualan hasil kebun,” kata Sekdes Sebubus Ramlan.

Inisiatif itu kemudian menimbulkan kontroversi, terutama di kalangan pengamat dan pegiat konservasi. Apalagi dalam pemberitaan disebutkan WWF dan BKSDA terlibat, tapi belakangan kedua lembaga menyangkal itu.

Kontroversi mencuat karena penangkaran milik warga itu dianggap ilegal dan tidak mengantongi izin. Padahal, penyu adalah satwa langka dan dilindungi sehingga penangkaran tidak bisa sembarangan. “Kami tidak pernah mengeluarkan rekomendasi penangkaran penyu di Sebubus,” kata Kasi Konservasi Wilayah Singkawang BKSDA Kalbar Junaidi.

Kontroversi terus bergulir dan sindikat pemburu telur penyu diduga berada di balik semua kegiatan itu. Riset lapangan WWF Kalbar menyebutkan terdapat 1.031 sarang telur penyu yang terdeteksi di Desa Sebubus sejak usaha penangkaran tukik di desa itu berdiri. Jika diasumsikan dengan kemampuan bertelur setiap penyu yang rata-rata mencapai 100 butir, terdapat ratusan ribu telur selama rentang waktu dua bulan. (Aris Munandar/H-1)


Blog Updated at: 12:16 PM