Penutur yang kian Tergusur

Posted by

NusantaraJUMAT, 16 JULI 2010  |  MEDIA INDONESIA

Keberagaman bahasa lokal bagai mozaik dalam khazanah budaya Kalimantan Barat. Namun, keberagaman bahasa tersebut kini terancam ditinggal para penutur.

Aries Munandar


POSTER berukuran 12 meter persegi terpampang di satu sudut ruang Institut Dayakologi, terlihat mencolok di antara pernik dan poster lain yang menghiasi dinding bercat putih tersebut.

Poster hitam itu menerangkan lokasi sebaran komunitas adat Dayak di Kalbar, hasil pemetaan tim peneliti dari Institut Dayakologi dan Pemberdayaan Pengelolaan Sumber Daya Alam Kerakyatan (PPSDAK) Pancur Kasih. Kedua lembaga swadaya masyarakat yang berkedudukan di Pontianak, Kalbar, ini memang bergerak di bidang penelitian dan pemberdayaan masyarakat adat Dayak.

“Terdapat 151 subsuku Dayak yang bermukim di Kalbar. Mereka masih terbagi lagi menjadi 100 komunitas adat yang memiliki 168 (varian) bahasa,” kata Sujarni Alloy, salah satu anggota tim peneliti.

Peta tematik mengenai sebaran subsuku Dayak Kalbar ini pertama kali dipublikasikan awal April 2008, bersamaan dengan peluncuran buku Mozaik Dayak: Keberagaman Subsuku dan Bahasa Dayak di Kalimantan Barat buah karya Sujarni, Chatarina Pancer Istiani, dan Albertus.

Beberapa pemerhati dan peneliti etnologi menyebut buku hasil penelitian tersebut sebagai masterpiece (mahakarya) karena menjadi satu-satunya terbitan yang memetakan keberagaman subsuku dan bahasa Dayak di Kalbar secara lengkap.

Terancam punah
Para pakar etnolinguistik mengelompokkan keragaman bahasa Dayak di Kalbar dalam enam rumpun yakni Melayik, Ibanik, Bidayuhik, Tamanik, Kayanik, dan Uud Danumik (Ot Danumik).

Tidak semua varian atau jenis bahasa Dayak di Kalbar itu tumbuh dan berkembang sebagaimana bahasa daerah lainnya. Beberapa varian bahasa penduduk asli Pulau Kalimantan itu kini berada di ambang kepunahan karena kelangkaan penutur.

“Berdasarkan standar dari UNESCO, bahasa yang penuturnya di bawah 1.000 orang dikategorikan sebagai bahasa yang terancam punah,” ujar Sujarni.

Bahasa lokal yang terancam punah itu antara lain bahasa Sekajang dan bahasa Kolangan. Sekajang adalah bahasa sehari-hari etnik Dayak dari subsuku Sekajang.

Penutur bahasa ini diperkirakan hanya tinggal 289 orang. Mereka menetap di satu kampung di perhuluan Sungai Sekayam, Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau.

Sementara itu, penutur bahasa Kolangan menetap di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Kolangan di Kampung Ledan, Kecamatan Ambalau, Kabupaten Sintang. Penutur bahasa Kolangan saat ini diperkirakan hanya tinggal satu orang.

“Mungkin sekarang sudah tidak ada lagi penuturnya karena satu-satunya penutur bahasa Kolangan yang kami temui ketika itu sudah berusia lanjut. Adapun anak-cucunya menggunakan bahasa Dohoy dalam percakapan sehari-hari,” jelas Sujarni.

Selain bahasa Sekajang dan Kolangan, masih terdapat puluhan jenis bahasa lainnya yang bernasib serupa. Tercatat sebanyak 27 jenis bahasa di subsuku Dayak di Kalbar terancam punah karena mulai ditinggalkan para penuturnya.

Banyak faktor yang menjadi penyebab ancaman kepunahan bahasa lokal. Mulai dari pengaruh modernisasi, tingkat pendidikan, penyebaran agama, migrasi penduduk, hingga kerusakan alam.

“Penggunaan kosakata yang berhubungan dengan ekologi, seperti penamaan satwa dan tumbuhan banyak yang hilang, seiring laju kerusakan lingkungan. Kondisi ini lambat laun akan berdampak terhadap eksistensi sebuah bahasa daerah,” kata peneliti Balai Bahasa Kalbar Dedi Ary Aspar.

Kearifan lokal
Kepunahan bahasa daerah di Kalbar sesungguhnya bukan lagi ancaman. Sebab, sudah ada jenis-jenis bahasa yang benar-benar punah karena tidak ada lagi penutur. Bahasa Embau salah satunya.

Bahasa yang dituturkan suku Embau yang bermukim di sepanjang Sungai Embau, Kabupaten Kapuas Hulu, itu diperkirakan sudah hilang dari peradaban sejak akhir abad ke-19. Subsuku Dayak tersebut beralih ke bahasa Melayu Kapuas Hulu dalam percakapan sehari-hari seiring masuknya ajaran Islam.

Menurut Dedi, ancaman kepunahan bahasa juga terjadi di komunitas Melayu di pedalaman Kalbar. Ia lantas mencontohkan bahasa Cali di Kabupaten Ketapang yang penuturnya saat ini diperkirakan tidak lebih dari 500 orang.

“Orang Cali banyak yang malu menggunakan bahasa asli mereka karena dianggap aneh dan berbeda dengan varian bahasa Melayu di Ketapang pada umumnya,” jelas Dedi.

Ancaman kepunahan bahasa tidak bisa dianggap remeh mengingat bahasa merupakan satu unsur terpenting dalam sebuah kebudayaan. Kepunahan sebuah bahasa berarti punah pula identitas sebuah budaya. Ini berarti hilang pula satu warisan multikultural di Tanah Air.

“Bukan hanya (seni) sastra yang hilang, melainkan juga ilmu pengetahuan. Pengetahuan tentang sumber daya hutan, ikatan sejarah, dan hubungan kekerabatan antarsuku serta berbagai pengetahuan sosial lainnya,” kata pakar etnolinguistik  dari Northern Illinois, Amerika Serikat, Jim Collins.

Hilangnya ilmu pengetahuan yang menyertai kepunahan sebuah bahasa itu berdampak terhadap pelestarian kearifan lokal. Sebab, tidak ada lagi yang bisa dijadikan rujukan karena kepunahan bahasa juga ikut memberangus keberadaan sastra lisan yang menjadi salah satu sumber kearifan lokal.

“Ikatan leluhur yang menjamin kerukunan masyarakat akan hilang karena bahasa yang menyampaikan tradisi itu sudah tidak ada,” ungkap Collins. (N-4)
aris@mediaindonesia.com


Blog Updated at: 1:58 PM