Tandon Air itu Mulai Bocor

Posted by


Kebocoran jadi peringatan besar, Danau Sentarum-tandon raksasa Kalimantan Barat-sedang dalam bahaya.
Aries Munandar


Akbar,4, mengepak-ngepakan tangannya. Berupaya menggapai tubuh bapaknya, Ade Jumhur,36, yang hanya beberapa meter ke arah pertengahan danau.


Sesekali bocah laki-laki itu menyelam tanpa rasa takut dan kemudian muncul ke permukaan dengan mata yang memerah karena kemasukan air.


Akbar adalah salah satu potret keseharian masyarakat yang bermukim di kawasan Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS), Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat (Kalbar). Baik bagi dia maupun warga setempat, keberadaan danau tersebut tidak sekadar tempat untuk mandi, mencuci dan sederet keperluan rumah tangga lainnya. Lebih dari itu, danau menjadi sumber hidup dan kehidupan.


Danau Sentarum merupakan kumpulan danau pasang-surut yang terhubung oleh jaringan sungai-sungai kecil pada kawasan dataran banjir lalu bermuara ke Sungai Kapuas.


Saat kemarau, sebagian wilayahnya berubah menjadi daratan dan membentuk tujuh danau besar serta puluhan danau kecil.  Di musim penghujan akan kembali menjelma menjadi sebuah genangan raksasa.


Siklus naik-turunnya permukaan air danau yang mengikuti pergantian musim itu sangat mempengaruhi kelangsungan hidup seluruh ekosistem di Kalbar. Itu disebabkan, danau seluas 120 ribu dari 132 ribu hektare (ha) luas kawasan TNDS tersebut sumber mata air bagi Kapuas, sungai utama di provinsi itu.


Danau Sentarum itu memiliki fungsi hidrologis yang vital karena berfungsi layaknya tandon (resevoir) bagi Sungai Kapuas.


Saat musim penghujan, dia menyimpan kelebihan air dari sungai dan mengalirkannya kembali pada saat kemarau,” kata Peneliti dari Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (Cifor) Yayan Indriatmoko.


Gangguan pada siklus pasang-surut Danau Sentarum, saat ini bukan lagi sekadar ancaman, tetapi sudah terjadi sejak beberapa tahun terakhir. Ibarat sebuah tandon air raksasa, danau yang berjarak sekitar 700 kilometer dari dari ibu kota Kalbar, Pontianak itu telah bocor di sana-sini, sehingga fungsi pengaturan airnya terganggu.


Menurut warga intensitas dan frekuensi pasang-surut kini sudah mulai abnormal. Bisa berlangsung singkat, bisa juga bertahan lebih lama dari biasanya yang sekitar 3-4 bulan.


Perubahan itu erat kaitannya dengan kerusakan lingkungan akibat dari berbagai aktivitas manusia. Padahal, sumber pendapatan warga setempat yang sebagian besar dari hasil budi daya dan penangkapan ikan, begitu tergantung pada pasang-surut air danau.


Penelitian Cifor dan Yayasan Riak Bumi menyebutkan sektor perikanan yang menampung 44% pendapatan masyarakat di kawasan Danau Sentarum berasal nilainya mencapai Rp34,7 miliar per tahun. Belum termasuk dari budi daya siluk (Schleropagus formusus) yang diusahakan sebagian warga, sebesar Rp70 milar-Rp140 miliar pertahun.


“Sebanyak 26,8% produksi ikan air tawar di Kalbar berasal dari perikanan tradisional TNDS,” ujar Yayan.

265 Spesies Terancam
Selain intensitas dan frekuensi pasang-surut, perusakan lingkungan memengaruhi kualitas air karena meningkatnya kekeruhan, sehingga mengancam populasi 265 spesies ikan air tawar yang hidup di danau tersebut.


Adapun populasi ikan air tawar di kawasan konservasi itu saat ini diperkirakan sekitar 190 ekor per hektare atau hanya 0,019% jika dibandingkan dengan sepuluh tahun lalu yang mencapai 1 juta ekor/ha.


Penurunan populasi juga disebabkan penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan, seperti jaring yang rapat, alat setrum listrik dan tuba (racun).


Selain itu, maraknya budidaya ikan toman (Channa micropeltes) dalam keramba,” imbuh aktivis lingkungan dari Riak Bumi Irawan.


Diperburuk Perambahan
Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Semitau Balai TNDS Budi Suryansyah menambahkan, menurunnya kualitas air Danau Sentarum dampak dari aktivitas pembalakan liar di sekitar kawasan tersebut pada beberapa tahun lalu.


“Perambahan hutan menyebabkan sedimentasi (pendangkalan) sehingga air danau menjadi keruh dan tercemar. Beberapa jenis ikan tidak bisa bertahan hidup dalam kondisi ekstrim seperti itu,” katanya.


Dampak pembalakan liar belum lagi teratasi, namun kelestarian TNDS kembali terancam dengan rencana pembukaan sejumlah perkebunan kelapa sawit di kawasan sekitarnya yang menjadi wilayah penyangga.


Data Koalisi LSM Kalbar untuk Kelestarian Danau Sentarum menyebutkan terdapat delapan perusahaan perkebunan kelapa sawit yang akan beroperasi di kawasan yang berdampingan langsung dengan TNDS. Sebanyak tiga dari perusahaan yang telah mengantongi sejumlah izin dari pemerintah tersebut sudah melakukan aktivitas pembukaan lahan.


Pembangunan delapan perkebunan kelapa sawit itu mengkonversi 68.340 ha hutan primer dan sekunder serta 965, 2 juta ha lahan gambut yang berfungsi sebagai daerah resapan air. Proyek ini juga melepas 128 juta ton karbon ke udara.


Menurut anggota koalisi Valentinus Heri, rencana pembangunan kebun tersebut telah ditentang keras oleh warga setempat. Selain menghilangkan hak pengelolahan lahan oleh masyarakat, aktivitas perkebunan antara lain juga dapat mencemari lingkungan, seperti erosi tanah dan polusi air akibat limbah pestisida dan pupuk.


“Terdapat sebanyak 10.104 jiwa yang menetap di dalam kawasan TNDS. Mereka khawatir terhadap kelangsungan sumber penghidupannya akibat pembangunan kebun kelapa sawit,” kata Heri. TNDS merupakan bagian dari kawasan jantung Kalimantan (Heart of Borneo).


Selain memiliki ratusan jenis ikan air tawar, lahan basah ini merupakan habitat dari 141 spesies mamalia yang lebih dari separuh di antaranya endemik Kalimantan dan 26 spesies reptil serta 200 spesies burung. Di kawasan yang berbatasan darat dengan Serawak, Malaysia, ini terdapat pula 510 spesies tumbuhan dan 135 di antaranya teridentifikasi sebagai anggrek alam. (N-4) 
aris@mediaindonesia.com


Blog Updated at: 1:39 PM