Semarak Sincia di Kota Seribu Kelenteng

Posted by







SELEKTA | SENIN, 15 FEBRUARI 2010  I  MEDIA INDONESIA

LANGIT di Kota Singkawang, Kalimantan Barat (Kalbar), tampak gemerlap bertaburkan cahaya kembang api. Percikan bunga api yang membentuk beragam konfi gurasi, warna, serta dentuman suara keras membuat suasana sepanjang Sabtu (13/2) malam itu terasa gegap gempita.

Langit di Singkawang seolah menampilkan atraksi perang bintang. Ribuan kembang api itu digelar warga untuk menyambut malam pergantian Tahun Baru Imlek 2561.



Perayaan Imlek atau dikenal juga Sin Cia di kota yang berjarak sekitar 150 kilometer dari Pontianak, ibu kota Kalbar, itu memang selalu disambut meriah oleh warga setempat. Pasalnya, komunitas Tionghoa di sana cukup dominan, yakni hampir separuh dari jumlah penduduk.





Kemeriahan suasana Imlek di Singkawang sudah terasa sejak beberapa pekan lalu. Jalan-jalan utama dan lokasi permukiman di ‘Kota Seribu Kelenteng’ itu berbenah mempercantik diri dengan aneka lampion dan ornamen Imlek lainnya.

“Ada semacam imbauan dari pemerintah kota agar setiap warga menghiasi rumahnya dengan lampion selama perayaan Imlek,” kata Fauzi, 33, warga Singkawang.

Setiap tahunnya, selain pesta kembang api, warga juga menggelar kegiatan lain yang spektakuler dan tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (Muri). Misalnya, pembuatan replika naga (liong) raksasa sepanjang 288 meter pada 2008 dan pergelaran 10.850 lampion hias pada Imlek 2009.

Aksi spektakuler juga kembali diusung pada perayaan tahun ini, yakni melalui pembuatan kue keranjang dan lampion hias raksasa. Kue keranjang setinggi 1 meter, diameter 2,88 meter, dan berat 8 ton lebih itu diharapkan mampu memecahkan rekor nasional.

“Kue keranjang simbol perekat kekeluargaan dan kebahagiaan. Kami membuatnya dalam ukuran raksasa untuk menunjukkan kepada dunia luar tentang kemeriahan Imlek di Singkawang,” ujar Sekretaris Panitia Perayaan Imlek dan Capgome Singkawang, Bong Cin Nen.

Proses pembuatannya pun cukup lama, yakni 16 hari dengan menghabiskan bahan-bahan, antara lain 4,6 ton ketan putih serta 4,6 ton gula pasir. Begitu juga dengan lampion raksasa setinggi 24 meter dan diameter 32 meter, menghabiskan 3.500 batang bambu, serta 2.000 meter kain parasut. Sebanyak 4.000 watt listrik dialirkan sebagai sumber cahaya.

Selain berbagai atraksi dan pesta rakyat, komunitas Tionghoa di Singkawang juga menggelar serangkaian acara ritual dan persembahyangan di kelenteng. Mereka berdoa dan mengucapkan syukur serta memohon kepada Tuhan agar selalu diberkati kesehatan, keselamatan, dan kemudahan dalam berusaha serta umur panjang. (Aries Munandar/X-9)


Blog Updated at: 11:01 PM