Pertarungan Ulang di Kalimantan Barat

Posted by


REFERENSI PEMILU INDONESIA  |  RABU, 19 NOVEMBER 2008   |  MEDIA INDONESIA 
PEMILU 2009 bakal menjadi ajang pertarungan ulang bagi para mantan calon kepala daerah Kalimantan Barat (Kalbar) untuk merebut simpati masyarakat setempat. Setelah kalah dalam pemilihan kepala daerah (pilkada), kini mereka kembali bersaing sebagai calon anggota legislatif (caleg).
Peluang para mantan calon kepala daerah untuk memenangi perebutan kursi legislatif cukup terbuka, jika dibandingkan dengan caleg lainnya. Setidaknya, raihan suara pada pilkada dapat memudahkan pemetaan kekuatan politik dan basis dukungan di dapil yang terdiri dari 10 kursi DPR itu.
“Itu bisa menjadi modal awal. Jika ada dukungan besar pada pilkada lalu, harus dibina. Kalau kecil, lakukan ekspansi,” kata pakar politik Universitas Tanjungpura (Untan) Gusti Suryansyah di Pontianak, kemarin.
Para mantan calon kepala daerah yang ikut meramaikan bursa caleg Pemilu 2009 yakni Usman Ja’far (PPP), Oesman Sapta Odang (PPD), dan AR Mecer (PNBKI).
Pada pilkada Kalbar 2007 yang dimenangi Cornelis-Christiandy Sanjaya (PDIP), Usman yang ketika itu calon incumbent menempati posisi kedua dengan perolehan suara 659.279 atau 30,94% dari 2.131.089 suara sah.
Oesman meraih 335.368 atau 15,74% dan AR Mecer yang menjadi calon wakil gubernur mendampingi Akil Mochtar mendapat 205.763 suara atau 9,65%.
“Caleg-caleg lainnya, terutama para caleg muda yang baru pertama kali diusung dari daerah ini, harus lebih berkeringat  bila ingin bersaing dengan para senior yang tidak hanya dikenal di Kalbar, tetapi juga di tingkat nasional,” ujar Suryansyah.
Selain ketiga nama tersebut, terdapat sejumlah mantan calon dan mantan bakal calon Gubernur Kalbar yang juga menjadi caleg, seperti Henri Usman (Demokrat), Zulfadhli (Golkar), dan Buchary Abdurrachman (PDIP).
Henri merupakan rival Usman saat Pilkada 2002, sedangkan Zulfadhli dan Buchary sempat masuk bursa calon kuat gubernur dari Partai Golkar dan PDIP pada Pilkada 2007. Namun, kandas karena kedua partai itu mencalonkan figur lain.
“Kompetisi antarmantan calon dan bakal calon itu akan kembali terulang, tetapi dalam arena politik yang berbeda. Kompetisi kali ini akan lebih ketat karena pesaingnya lebih banyak dan menyebar,” jelas Suryansyah yang juga Ketua Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI) Kalbar.
Selain para mantan calon dan mantan bakal calon kepala daerah, secara umum persaingan caleg DPR di dapil Kalbar sama seperti daerah lainnya, yakni diikuti para mantan pejabat lokal, kerabat petinggi partai, petualang politik, serta para tokoh dari luar daerah.
“Keikutsertaan anak petinggi partai dapat menjadi bahan kampanye hitam bagi lawan politiknya. Terlebih menjadi kader karbitan.”
Dapil yang terdiri dari 12 kabupaten dan dua kota itu mendapat alokasi 10 kursi DPR. Pada Pemilu 2004, Golkar meraih tiga kursi, PDIP dua kursi. PPP, PBR, PDS, PAN, serta Demokrat masing-masing meraih satu kursi. (AR/P-6)


Blog Updated at: 11:57 AM