Menanti Malaikat Turun ke Perbatasan

Posted by

Nusantara  |  SENIN, 27 JULI 2009  I   MEDIA INDONESIA
Malaysia mengubah sejumlah jalan raya dekat perbatasan menjadi tempat pendaratan pesawat tempur.



Aries Munandar


SEPULUH laki-laki berseragam loreng bergerak cepat menerabas belukar. Selepas beberapa jalan menurun dan tanjakan, langkah mereka terhenti di depan batang-batang beton setinggi 30 sentimeter.
Sorot matanya hendak meyakinkan, posisi beton sudah sesuai dengan koordinat yang bertumpuk dalam lembaran peta.
“Sering kami temukan beton patok yang rusak, tumbang, bahkan bergeser dari posisi semula,” gumam Sersan Dua Petrus Itu, dua pekan lalu. Ia komandan regu pasukan gabungan tentara Indonesia-Malaysia yang bertugas mengamankan garis sempadan dua negara.
Sempadan tersebut menancap dekat Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Dua kali dalam sepekan, Petrus harus kembali ke jejeran patok tersebut. Termasuk ke sejumlah patok yang tertanam di lokasi sulit.
Berpatroli ke patok yang satu itu, imbuh Petrus, mengharuskan pasukannya mendaki tebing terjal dan bermalam di hutan karena jarak tempuhnya jauh. “Letaknya di atas tebing dan saling berjauhan, butuh tiga hari berjalan kaki untuk mencapai lokasi.”
Kedatangan Petrus dan pasukannya sungguh berarti. Sebab, meski sekadar batang beton, maknanya jauh berbeda ketika sampai bergeser.
Kepala Penerangan Korem 121/Alam Bhana Wanawai Kapten Umar Affandi, menamakan batang-batang tersebut sebagai penegas dan penjelas kesepakatan yang terjalin.
Tak jarang patok vital lenyap atau bergeser hingga puluhan meter. Itu sudah problem usang yang tak kunjung terpecahkan sampai hari ini.
Adapun letak batang beton mengacu pada traktat 1891 yang ditetapkan bersama oleh dua pemerintah kolonial, yakni Belanda dan Inggris. Mengacu pada metode devide watershed diputuskanlah titik koordinatnya.
Umar menambahkan, meski patok hilang, selamanya titik koordinat itulah yang menjadi acuan. Sebagai gambaran saat ini terdapat sekitar 200 kilometer dari total 966 kilometer panjang perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan Barat yang tidak dijaga.
Pada sisi patok yang lain, aparat keamanan jiran justru memiliki kontrol yang baik. Dukungan infrastruktur telah menjangkau hingga teritorial terdepan di negara mereka. Alhasil, saat tentara Indonesia membutuhkan tiga hari untuk sampai ke garis perbatasan, sebaliknya tentara Malaysia hanya butuh tiga hari.
“Dalam kurun sesingkat itu Malaysia bisa memobilisasi pasukan dan seluruh kemampuan militer,” pungkas Bupati Sanggau, Kalimantan Barat Setiman H Sudin.
Rasa khawatirnya beralasan sebab belakangan di ‘luar sana’ tentara jiran makin semangat meramaikan teritorial dekat perbatasan. Bahkan sumber Media Indonesia menyebutkan, tentara Malaysia sudah mengubah sejumlah jalan raya di perbatasan menjadi tempat pendaratan pesawat tempur. (N-4) aris@mediaindonesia.com


Blog Updated at: 2:42 AM