Denting Dawai kembali Mengalun

Posted by


Nusantara |  SABTU, 19 JUNI 2010  |  MEDIA INDONESIA
Melodi Alam Lening mengalun merdu dan mendayu di penghujung senja. Menyeruak di antara keriuhan pengunjung di Pekan Gawai Dayak di Pontianak, pertengahan Mei.

Aries Munandar
IRAMA instrumentalia bernuansa tradisional itu berasal dari sebuah  sape yang dimainkan seniman di salah satu stan peserta ajang budaya tahunan tersebut. Atraksi pria berpakaian kebesaran adat Dayak Kayaan, lengkap dengan mahkota bereplika kepala enggang badak (Buceros  rhinoceros) mengundang perhatian pengunjung.
Tempo permainan diperlambat. Ia kemudian menjelaskan secara singkat tentang teknik memainkan alat musik yang berada di pangkuannya serta makna tersirat dari lagu yang didendangkan.
“Lagu ini berkisah tentang sebuah sungai di perdalaman Mendalam (Kabupaten Kapuas Hulu). Sungai ini menjadi benteng pertahanan masyarakat kami pada masa perang suku beberapa ratus tahun lalu,” kata Dominikus Uyub, 35, seniman sape dan pencipta Alam Lening.
Uyub, demikian pemuda ini biasa disapa. Ia telah menekuni sape sejak masih berusia lima tahun. Sape adalah alat musik tradisional khas masyarakat Dayak.
Alat musik petik ini digunakan untuk mengiringi berbagai kesenian tradisional, semisal nyanyian dan tarian, serta pelantunan sastra lisan. Alat musik berdawai tiga atau empat tersebut juga kerap dimainkan dalam ritual adat.
Uyub termasuk seniman yang menghidupkan kembali tradisi bermain sape di Kota Pontianak. Kesenian ini sebelumnya sempat lama vakum karena tidak pernah ada satu pun pergelaran atau pentas sape selama bertahun-tahun.
“Satu-satunya sanggar kesenian sape di Pontianak saat itu, Hengkung Kayaan, sudah lama tidak aktif karena ditinggal para anggotanya,” ujar alumnus salah satu perguruan tinggi swasta di Pontianak ini.
Kondisi itu terjadi pada 1995 lalu. Saat Uyub pertama kali menginjakkan kakinya di Pontianak untuk berkuliah. Sejak saat itu, ia bertekad untuk menghidupkan kembali tradisi sape di Kota Pontianak.
Usaha yang dilakoni Uyub untuk melestarikan salah satu kekayaan budaya leluhurnya itu tidak berjalan mulus. Berbagai cibiran bahkan hardikan pernah ia terima pada saat merintis karier sebagai pemain sape di salah satu hotel ternama.
“Seorang bule pernah berteriak dan meminta saya menyetop permainan sape. Dia bilang bosan karena saban malam disuguhi jenis musik yang itu lagi, itu lagi,” kenang seniman yang telah merilis dua album rekaman dan belasan lagu berirama sape itu.
Pentatonik
Sape termasuk alat musik berirama pentatonik. Ia hanya bisa memainkan nada-nada tertentu dengan skala lima not per oktaf. Keterbatasan variasi nada menjadi ciri dari semua musik petik khas Pulau Kalimantan.
“Variasi nadanya hanya do-re-mi-so-la-do dan tidak mempunyai nada fa serta si. Untuk mendapatkan nada fa biasanya sape harus disetel ulang,” kata peneliti etnomusikologi Elias Ngiuk.
Bentuk dan bagian sape menyerupai gitar, tetapi badannya tidak berlekuk melainkan persegi panjang serta rongga pada bagian belakang sebagai sumber resonansi suara.
Cara memainkannya juga mirip gitar, yakni dipetik. Kendati demikian, memainkan sape memiliki tingkat kesulitan tersendiri karena alat musik ini tidak mengenal kunci nada seperti alat musik petik modern.
Harmonisasi nada yang dihasilkan betul-betul mengandalkan ketajaman intuisi atau perasaan pemain. Pemusik  sape harus lihai berimprovisasi agar bebunyian yang dihasilkan selaras dengan irama alat musik lain atau gerakan tari.
“Memainkannya harus dengan hati dan penuh perasaan. Tidak bisa asal petik atau  genjrang-genjreng sembarangan,” ujar Uyub.
Ada satu teknik khusus yang wajib dikuasai seorang pemusik  sape, yang dikenal dengan istilah  drone. Teknik ini menjadi ciri khas dalam permainan  sape dan tidak dikenal dalam permainan musik petik mana pun. Pegiat dan penikmat musik sape mengistilahkan teknik ini dengan sebutan teknik kait.
“Cara memainkannya, yakni dengan mengaitkan jari ke senar. Oleh karena itu, teknik ini disebut juga dengan teknik kait. Adapun fungsinya mengharmoniskan melodi dengan irama musik,” jelas Ngiuk.
Memainkan sape juga membutuhkan keluwesan serta kelincahan je mari. Sebab, alat musik berbahan dasar kayu ini memiliki tangga nada yang sangat fleksibel dan dinamis. Susunan tangga lagu atau grift pada sape bisa dipindah-pindahkan sesuai keinginan dan tuntutan irama.
Grift sape menggunakan getah dari sarang kelulut (lebah hutan) sebagai bahan perekat sehingga mudah dibongkar pasang.”
Kembali populer
Permainan sape berasal dari tradisi masyarakat Dayak subsuku Kayaan dan Kenyah yang menetap di Pulau Kalimantan. Di Kalbar, komunitas ini tinggal di perdalaman Putussibau, Kapuas Hulu.
“Jika ada yang mengklaim tradisi ini juga dimiliki subsuku Dayak lainnya, pendapat itu keliru besar,” kata Uyub dan di benarkan Ngiuk.
Tradisi  sape saat ini semakin berkembang dan kerap dipertontonkan dalam berbagai kegiatan di Kalbar. Sejumlah kursus dan sanggar yang mengajarkan permainan ini pun ber munculan dalam beberapa tahun terakhir.
Peminatnya berasal dari beragam latar belakang. Bahkan, warga negara asing. Tidak hanya itu, beberapa seniman juga mencoba memadukan unsur irama sape ke dalam musik modern. Seperti yang dilakukan Ferry, 30, seniman sape asal Kapuas Hulu.
“Saya sedang mempersiapkan sebuah pementasan sape yang berkolaborasi dengan salah satu grup musik underground di Pontianak,” ujarnya.
Nama Ferry tidak asing lagi di kalangan seniman dan penikmat sape. Ia sering berkeliling mementaskan sape hingga ke mancanegara. Keahlian ini ditekuninya secara autodidak sejak di bangku sekolah.
Upaya memadukan irama sape dengan unsur musik modern bukan baru pertama kali ini dilakukan seniman Kalbar. Ngiuk misalnya, pernah melakukan hal serupa sekitar 13 tahun lalu.
“Saya mengisi instrumen sape untuk lagu Hutan di album pertama grup Jikustik. Rekaman itu dibuat pada 2007 lalu,” ungkap Ngiuk. (N-4)
aris@mediaindonesia.com


Blog Updated at: 4:46 PM