Bersiap Hengkang ke Tanah Seberang

Posted by


NusantaraSELASA, 25 AGUSTUS 2009  |  MEDIA INDONESIA
TERGERUSNYA habitat alam dan populasi penyu di Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat menjadi ancaman serius bagi lingkungan hidup. Pasalnya, hewan jenis reptil ini memiliki peran penting dalam subekosistem laut dan pesisir karena menjadi media penyebaran benih di padang lamun.


Aries Munandar
Adapun padang lamun merupakan jenis tumbuhan yang dapat mencegah abrasi dan terjangan ombak laut. Benih-benih tumbuhan yang menjadi pakan alami penyu disebarkan satwa tersebut melalui kotorannya.
“Selain itu, keberadaan penyu menjadi salah satu indikator tingkat pencemaran suatu kawasan,” ujar staf pemantau habitat penyu WWF Indonesia Kalbar Dwi Suprapti, dua pekan lalu.
Celakanya, saat perburuan telur penyu belum dapat diredam, kini muncul lagi sebuah ancaman baru terhadap populasi penyu di Tanjung Sungaibelacan, Kecamatan Paloh. Yakni, rencana pembangunan pelabuhan pendaratan angkutan gas alam cair (LNG) di kawasan pantai tersebut.
Megaproyek yang dibangun untuk mendukung aktivitas pengeboran minyak di Laut Natuna dipastikan akan mengganggu kehidupan penyu sebab areal yang dialokasikan berada di kawasan sekitar Tanjung Sungaibelacan.
“Kehidupan penyu laut sangat sensitif. Mereka bahkan tidak bisa terkena cahaya lampu sedikit pun,” tutur Dwi.
Ancaman demi ancaman yang terus menggerus habitat penyu di Paloh mengakibatkan satwa itu harus pandai-pandai menyiasati hidupnya dan jika tetap tidak tertolong mereka bisa saja memilih hijrah ke negeri jiran Malaysia.
Sebab, di seberang sana atau tepatnya di Pulau Talang-Talang berdiri sebuah kawasan konservasi penyu laut. Pulau tersebut jaraknya hanya sepemandangan mata dari perbatasan Indonesia-Malaysia di Temajuk.
Malaysia giat menjaga dan mengembangbiakkan penyu mereka di kawasan khusus yang steril dari berbagai aktivitas manusia. Pemerintah setempat juga memberlakukan ancaman hukuman berat bagi pengedar telur penyu ilegal, yakni denda sebesar 1.000 ringgit atau sekitar Rp2,8 juta per butir telur yang diperdagangkan.
“Aparat Malaysia memasang sayembara jika ada warga yang mengembalikan penyu mereka yang terdampar di sini akan diupah sebesar 500 ringgit (sekitar Rp1,4 juta),” kata Nursiah, 52, warga Temajuk.
Penyu asal Malaysia dengan mudah dikenali karena memiliki tanda khusus yang diberikan petugas konservasi setempat. Itu juga menjadi salah bukti betapa seriusnya negara tetangga itu menjaga kelestarian ekosistem mereka.
Dengan demikian, bukan hal yang mustahil jika kelak terjadi migrasi penyu besar-besaran ke Pulau Talang-Talang karena habitat di Paloh terus mengalami tekanan hebat.
"Migrasi itu sangat mungkin terjadi mengingat penyu mempunyai kemampuan jelajah hingga menyeberangi samudra," ujar Dwi (AR/N-4)


Blog Updated at: 2:28 PM