Denyut Modernisasi dalam Balutan Tradisi

Posted by




NusantaraJUMAT, 7 MEI 2010  I  MEDIA INDONESIA

Naik Dango merupakan rangkaian pesta adat yang digelar seusai masa panen padi. Tahun ini penyelenggaraannya telah memasuki tahun perak, seruan modernisasi pertanian pun digelorakan para pemuka adat.
Aries Munandar
IRING-IRINGAN tandu pembawa hasil bumi perlahan memasuki pekarangan betang. Sepasukan pria berseragam laksana panglima perang berjajar di depan, mengawal tandu sambil mengayunkan mandau dan perisai. Sementara itu, barisan gadis belia dengan punggung bertato menari gemulai, mengekor di belakang tandu.

Tandu yang dipanggul tersebut memuat aneka ragam bentuk dan corak. Ada yang menyerupai betang (rumah panjang khas suku Dayak). Ada pula yang berbentuk miniatur lumbung padi, perahu berkepala menyerupai naga, dan replika rangkong.
Ini sebuah simbolisme yang sarat makna, melambangkan harapan serta rangkaian doa kepada Sang Maha Kuasa.
Rentak dan gerakan para pengiring dan pemanggul tandu itu berpadu serasi, mengikuti alunan musik tradisional yang ditimpali mantra-mantra dari pemangku adat. Lumpur tanah liat sisa hujan semalam menghampar di sepanjang pekarangan rumah adat dan tidak memupus keceriaan mereka.
Prosesi ini adalah rangkaian dari ritual mengantar panompo, sebuah ritual yang dilakukan masyarakat Dayak Kanayatn di Kalimantan Barat (Kalbar) pada saat menyimpan hasil panen di lumbung padi, untuk cadangan makanan selama setahun.
Ritual tersebut diikuti juga dengan persembahan berbagai hasil bumi, di antaranya ayam jantan dan sejumlah daging ternak serta bahan sesajen lain.  Aneka persembahan tersebut kemudian digelar di betang untuk didoakan pemuka adat setempat.
Selanjutnya, serumpunan padi itu disimpan di dalam lumbung yang terletak berdampingan dengan bangunan utama betang. Serangkaian doa terus dilafalkan pemuka adat, mengiringi prosesi penyimpanan padi ke dalam lumbung.
Pesta panen 
Tradisi mengantar  panompo diikuti delegasi komunitas adat Dayak Kanayatn dari 23 kecamatan di Kabupaten Pontianak, Landak, dan Kubu Raya. Mereka bergiliran mempersembahkan secara simbolis hasil panen terbaiknya untuk disimpan dalam lumbung.
Mengantar panompo sekaligus menandai dimulainya puncak Pesta Adat Naik Dango XXV yang berlangsung pada 24-28 April lalu. Acara ini dipusatkan dalam betang, Kecamatan Kualabehe, Kabupaten Landak.
“Serangkaian kegiatan lain juga telah digelar beberapa hari sebelumnya. Di antaranya,  offroad (jelajah mobil) bersama bupati, seminar tentang Naik Dango dan  bahaum (musyawarah adat),” kata Ketua Panitia Pelaksana Pesta Adat Naik Dango XXV Herman Masnur saat pembukaan pesta adat tersebut, Selasa (27/4).
Naik Dango merupakan rangkaian pesta adat yang digelar seusai masa panen padi. Kegiatan ini dilakukan secara bergilir setiap tahun di komunitas adat Dayak Kanayatn se-Kabupaten Pontianak, Landak, dan Kubu Raya.Tujuannya, sebagai perwujudan rasa syukur atas hasil panen padi.
“Ucapan syukur itu harus disertai evaluasi, apakah hasil panen serta pola dan sistem pertanian kita selama ini sudah berjalan baik. Apakah pengolahan lahan dilakukan secara sendiri-sendiri atau bersama-sama,” kata Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Landak Ignatius Ludis.
Seruan modernisasi
Naik Dango tidak ubahnya seperti pesta rakyat. Ribuan warga tumpah ruah menyaksikan dan mengikuti serangkaian seremoni serta berbagai ritual dan atraksi budaya.
Naik Dango kali ini terasa istimewa. Bukan hanya karena penyelenggaraannya yang telah memasuki tahun ke-25 atau tahun perak. Lebih dari itu, perayaan tahun ini dijadikan sebagai momentum kebangkitan kedaulatan pangan dan pencanangan gerakan modernisasi pertanian di Kabupaten Landak.
“Modernisasi menjadi sebuah keharusan. Jika tidak, kita semua bisa kelaparan karena sumber makanan di alam semakin hari semakin sulit didapat,” kata Bupati Landak Adrianus Asia Sidot.
Seruan modernisasi juga digelorakan para pemuka adat. Mereka menyerukan kepada se luruh lapisan masyarakat adat agar meninggalkan tradisi yang berbau klenik dan takhayul karena dapat menghambat kemajuan dan kesejahteraan.
Kabupaten Landak selama ini memang menjadi salah satu daerah lumbung padi di Kalbar. Namun, tingkat pro duksi padi di daerah ini belum optimal, di satu sisi masih terdapat sekitar 20 ribu hektare lahan potensial yang belum tergarap karena berbagai keterbatasan sarana dan sumber daya manusia.
“Produksi padi di Landak berkisar 198 ribu hingga 208 ribu ton per tahun. Adapun produktivitas sekitar 3,4 ton per ha. Produktivitas ini masih belum ideal karena target kami adalah minimal 5,5 ton per ha,” jelas Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Landak Pa’du Palimbang.
Salah satu terobosan yang dilakukan pemerintah setempat untuk mendorong produktivitas dan modernisasi pertanian adalah dengan meluncurkan produk beras lokal bertepatan dengan puncak perayaan Naik Dango tahun ini.
“Saya berani jamin rasa dan kua litas beras produksi Kabupaten Landak tidak kalah dengan beras rojolele, pandan wangi, atau beras lainnya,” tegas Adrianus. (N-4)
aris@mediaindonesia.com


Blog Updated at: 1:04 PM