Naga Menggeliat, Wisatawan Meningkat

Posted by


Nusantara  |  SELASA,  2  MARET  2010  |  MEDIA INDONESIA
Sarat turis, arus uang masuk selama perayaan Imlek dan Capgome di Kalimantan Barat diperkirakan mencapai Rp30 miliar per hari.

Aries Munandar
SEBUAH replika naga, dijuluki liong, membelah keramaian malam. Bergerak perlahan di antara lautan manusia.
Tubuh berkelir sisik warna-warni itu terlihat anggun dengan balutan cahaya bohlam yang terpasang di balik kerangka. Liong ini berukuran raksasa, panjangnya mencapai seratusan meter dan diusung belasan pemain.
Ia beraksi pada malam Festival Capgome di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Sabtu (27/2), mengiringi pemilihan Koko dan Meimei Kalimantan Barat 2010.
Para pemain liong terdiri dari pria dewasa karena untuk mengarak replika naga dibutuhkan stamina prima. Langkah dan gerakan pemain yang mengitari lokasi acara kerap tersendat akibat arus massa yang mendekat.
Mereka harus berpapasan dengan penonton yang berlomba mengabadikan dan menjamah sang naga. Sebab, menyaksikan atraksi ini di malam hari menjadi suatu peristiwa yang langka.
Beberapa penonton bahkan mencoba meraih hiasan janggut di replika naga itu karena dianggap dapat membawa rezeki dan kebaikan. Namun, gerakan penonton ini masih kalah cepat dengan kesigapan pemain yang tidak menginginkan hiasan itu rusak dan menjadi rebutan.
Gagal mendapatkan janggut liong bukan berarti memupus harapan untuk meraih berkah. Keberkahan itu diyakini masih dapat diperoleh dengan menyusup di bawah lintasan liong.
“Saya ingin menyeberang di bawah badan naga itu karena katanya bisa membawa kebaikan,” kata Achie, 31, seorang warga Pontianak.
Naga dalam mitologi China diyakini sebagai makhluk dari kayangan yang menguasai lautan dan memberi hujan, serta melindungi manusia dari bencana.
Oleh karena itu, membuat dan memainkan replika naga hanya boleh pada perayaan Capgome dan harus disertai berbagai ritual.
Ritual tersebut diawali dengan prosesi membuka mata di kelenteng, dimaksudkan untuk memberikan ‘kehidupan’ pada liong sehingga memiliki kekuatan untuk menangkal berbagai pengaruh jahat.
“Ritual buka mata dilangsungkan di Kelenteng Kuan Tie Bio. Setelah itu, baru naga-naga boleh turun ke jalan-jalan,” kata Ketua Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT) Kalimantan Barat Harso Utomo Suwito.
Setelah melakukan pertunjukan di muka umum, replika naga ini harus dimusnahkan dengan cara dibakar. Prosesi ini bertujuan mengantarkan kembali roh yang bersemayam di liong ke kayangan.
Kreasi liong di Pontianak pernah menoreh prestasi spektakuler, yakni melalui pembuatan liong raksasa sepanjang 288 meter dan berdiameter lima meter pada 2008. Hasil kreasi Sanggar Mandala tersebut tercatat sebagai liong terbesar di Indonesia. Sebelumnya, kelompok ini juga sukses memecahkan rekor nasional melalui pembuatan liong terpanjang di Indonesia, yakni berukuran 592 meter dengan diameter 1,5 meter.
Agenda Wisata
Capgome yang menjadi penutup atau puncak perayaan Imlek selalu dirayakan meriah oleh komunitas Tionghoa se-Kalimantan Barat. Berbagai atraksi unik dan kolosal digelar di dua kota yang menjadi pusat perayaan, yakni Pontianak dan Singkawang.
Jadwal penerbangan dan penginapan di kedua kota itu selalu padat menjelang Capgome. Sementara itu, kamar hotel sebagian besar habis dipesan (full booked) sejak seminggu menjelang perayaan.
“Tingkat isian penumpang yang biasanya 60%-70%, naik menjadi 90%-100% saat Imlek dan Capgome,” kata Manajer PT Metro Batavia Cabang Pontianak Yunan Ismail.
Sebanyak 100 ribu wisatawan diperkirakan berkunjung ke Kalimantan Barat untuk menikmati kemeriahan.
Berdasarkan hitungan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Kota Pontianak Andreas Acui Simanjaya, arus uang masuk selama perayaan Imlek dan Capgome di Kalimantan Barat diperkirakan mencapai Rp30 miliar per hari.
“Ini hanya hitungan kasar. Belum termasuk ongkos tiket pesawat, belanja oleh-oleh, serta biaya keperluan untuk perayaan,” kata mantan anggota DPRD Kalimantan Barat ini.
Pamor dan daya pikat Capgome dapat menjadi pintu gerbang utama untuk memperkenalkan lebih jauh potensi wisata dan peluang investasi daerah. Namun, sayangnya kesempatan emas itu belum digarap secara serius oleh pemerintah setempat.
Promosi masih dianggap minim karena baru digencarkan sekitar sebulan menjelang perayaan. (N-4) 
aris@mediaindonesia.com


Blog Updated at: 4:33 PM