Di Balik Pesona Kulminasi

Posted by


Nusantara | SENIN,  29  MARET  2010  |  MEDIA INDONESIA
Fenomena alam detik-detik kulminasi matahari dirayakan di Pontianak, Kalimantan Barat, sebagai ajang pariwisata. Pesona kulminasi ini hanya terjadi di 10 negara di dunia.
Aries Munandar
RENTETAN letupan petasan dan dentuman meriam karbit menggelegar di kawasan Tugu Khatulistiwa, Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar). Gemuruh bebunyian ini menandai puncak peringatan detik-detik kulminasi matahari.
Ratusan pengunjung yang semula tegang, sontak semringah karena peristiwa yang mereka nanti hingga berjam-jam itu akhirnya terjadi. Kekhawatiran semakin bertambah saat petasan sebagai pendeteksi terjadinya kulminasi tidak juga berbunyi sampai hitungan mundur selesai. Kekhawatiran ini terutama dirasakan oleh Ahmad Mahmudi dan rekan-rekannya.
“Tadi sempat waswas tapi untunglah akhirnya petasan itu meledak juga. Ini berarti alat peraga yang kami buat berhasil membuktikan terjadinya kulminasi,” kata guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 6 Pontianak ini.
Ahmad bersama timnya merancang sebuah alat peraga sederhana untuk membuktikan terjadinya kulminasi matahari. Alat yang baru pertama kali digunakan pada Selasa (23/3) itu berbahan utama pipa galvanis dan sebuah lensa cembung.
Alat buatan tim guru dan siswa SMK Negeri 6 Pontianak tersebut berfungsi memfokuskan bias sinar matahari terhadap sebuah objek, yakni berupa kumpulan batang korek api yang terhubung dengan sumbu petasan.
Kegagalan di awal acara disebabkan kesalahan panitia penyelenggara dalam menentukan permulaan kulminasi matahari.  Akibatnya, alat tersebut tidak bereaksi karena posisi matahari belum berada pas di tengah-tengah garis khatulistiwa.
“Patokannya adalah ramalan BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika), yang memperkirakan kulminasi terjadi pada pukul 11.50 WIB. Ini persis dengan penunjuk waktu yang kami kenakan,” kata Jemaah yang juga anggota tim.
Momentum kulminasi
Kulminasi matahari adalah peristiwa alam saat matahari tepat berada di lintasan garis khatulistiwa. Pada saat itu bayangan objek atau benda yang berada di titik perlintasan tersebut menghilang selama beberapa saat.
Keajaiban alam ini terjadi sebanyak dua kali setahun, yakni pada setiap 21-23 Maret dan 21-23 September, dengan durasi selama 5 hingga 10 menit. Peristiwa tersebut biasanya berlangsung antara pukul 11.30-11.50 WIB.
“Peristiwa kulminasi hanya momentum. Pemerintah seharusnya mengupayakan agar peringatan ini berdampak luas terhadap dunia pariwisata, sehingga mampu menggerakkan perekonomian di daerah,” kata pemerhati wisata Kalbar Yudo Sudarto.
Peringatan detik-detik kulminasi matahari telah menjadi agenda tetap pariwisata Pontianak. Pemerintah kota (pemkot) setempat mengemas kegiatan ini dalam sebuah perayaan yang diisi dengan berbagai pergelaran seni dan budaya.
Berbagai kalangan memandang upaya Pemkot Pontianak itu masih jauh dari harapan.  Sebab, rangkaian peringatan kulminasi yang mereka selenggarakan kerap terjebak pada acara seremoni.
“Sekarang sudah relatif lebih baik karena dimeriahkan oleh pameran dan pergelaran seni serta hiburan selama empat hari,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalbar Kamaruzzaman.
Kulminasi matahari sebenarnya tidak hanya berpotensi menjadi objek wisata andalan. Fenomena alam ini juga memiliki daya tarik tersendiri bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Observasi mengenai kulminasi matahari dan dampaknya terhadap kehidupan serta sistem tata surya, sejauh ini masih sangat minim. Setidaknya, hal itu dirasakan warga dan pemerintah setempat.
Padahal masih banyak misteri alam dari kulminasi ini yang belum terungkap secara luas. “Kami menginginkan agar peristiwa ini juga bisa diteliti secara ilmiah,” ungkap Kamaruzzaman.
Peristiwa kulminasi tidak bisa dilepaskan dari keberadaan Tugu Khatulistiwa yang menjadi pusat kegiatan. Berdasarkan catatan pengelola, pengunjung Tugu Khatulistiwa rata-rata hanya sekitar 50-100 orang per hari. Jumlah kunjungan ini baru melonjak sekitar lima hingga sepuluh kali lipat saat peringatan kulminasi. (M-2)
aris@mediaindonesia.com


Blog Updated at: 4:17 PM