Redupnya Zikir Nazam di Kalbar

Posted by


Local WisdomSABTU, 6 FEBRUARI 2010  |   MEDIA INDONESIA
SAMBAS dikenal sebagai Serambi Mekah Kalimantan Barat (Kalbar). Ajaran dan berbagai tradisi Islam tumbuh dan berkembang di masyarakat sana. Dari situ juga lahirlah sejumlah ulama besar dan berpengaruh.



Salah satu tradisi keagamaan yang hingga kini masih dilestarikan masyarakat Sambas ialah zikir nazam. Itu sebuah tradisi yang berkembang bersamaan dengan penyebaran agama Islam di kabupaten yang berada di kawasan pantai utara Kalbar ini.
Zikir nazam merupakan seni bersyair dalam bahasa Arab yang dilantunkan dengan pelaguan tertentu. Kesenian itu dimainkan secara berkelompok dan diiringi dengan alat musik perkusi, semisal rebana, ketumba, dan tamborin.
Syair tersebut berpedoman pada kitab Barzanji karya Syekh Jafar Albarzanji, dan umumnya terdiri dari dua larik serangkap dengan jumlah kata empat hingga enam selarik. Skema syairnya berjenis monorima, yakni a-a, a-b, dan c-b, dengan beberapa variasi.
Selain mengandung pesan moral keagamaan dan ungkapan rasa syukur kepada sang Khalik, tradisi zikir nazam juga memperkuat hubungan sosial karena kerap dijadikan ajang silaturahim.
Zikir nazam sebenarnya berasal dari kesusastraan Arab-Persia kemudian menyebar ke Asia Tenggara hingga ke jazirah Melayu pada abad ke-16 Masehi. Tradisi itu pada mulanya dijadikan sebagai media penyebaran Islam oleh para ulama dan pedagang dari Arab.
Menurut pegiat zikir nazam Nasaruddin, tradisi ini pertama kali diperkenalkan dan dipopulerkan di Sambas oleh Syekh Ahmad Khatib Alsambasi. Seorang ulama besar asal Sambas yang mendirikan tarekat Qadariyah-Naqsabandiyah.
Tradisi ini biasanya digelar di surau atau rumah warga pada setiap Kamis malam. Namun, kerap pula dipertunjukkan pada acara pernikahan dan selamatan kelahiran anak (akikah).
Tradisi lisan itu kemudian berkembang dan menyebar ke sejumlah daerah lain di Kalbar melalui migrasi warga Sambas, yang dikenal gemar merantau tersebut.
Pemain dan penikmat zikir nazam saat ini didominasi kalangan generasi tua. Minat generasi muda terhadap tradisi ini terbilang minim. Mereka lebih tertarik memainkan dan menikmati musik modern ketimbang melestarikan seni yang diwariskan para leluhur. (AR/M-3)


Blog Updated at: 5:11 PM