Kepak Burung Sakti Nyaris Terhenti

Posted by


Nusantara | SENIN, 8 FEBRUARI 2010  |   MEDIA INDONESIA


Enggang menempati urutan pertama di antara sembilan burung yang dianggap sakti oleh etnik Dayak di Kalimantan.

Aries Munandar
SEPASANG enggang beterbangan dan menabrakkan tubuh mereka ke kawat besi yang menjadi dinding kandang seluas 3 meter persegi. Keriuhan yang muncul siang itu membuat satwa ini tidak nyaman dan ketakutan.
Adapun Renny Anggraini, 23, hanya bisa menatap sambil mengabadikan suasana dan gerak-gerik peliharaannya melalui kamera telepon seluler.
”Saya pikir alam bebas adalah tempat terbaik buat mereka, bukan di kandang ini,” ujar mahasiswi Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak itu.
Hari pertama di awal Februari itu adalah perjumpaan terakhir Renny dengan burung kesayangannya, sebelum sepasang enggang itu dibawa petugas ke pusat konservasi satwa di Singkawang, Kalimantan Barat.
Enggang peliharaan Renny merupakan jenis kangkareng hitam (Anthracoceros malayanus). Ia membelinya dari teman di Singkawang seharga Rp350 ribu sepasang. Burung ini kemudian ditempatkan Renny di sebuah kandang di belakang rumah kakeknya, Jl Merdeka Barat, Pontianak.
Setelah sekitar tiga bulan mendekam dalam kandang tersebut, sepasang satwa itu diserahkan Renny ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar.
“Tindakan seperti ini yang kami harapkan dari setiap pemilik satwa langka dan dilindungi, yakni menyerahkannya kepada petugas BKSDA setempat,” kata Kepala Seksi Wilayah III BKSDA Kalbar Junaidi.
Burung berbulu hitam mengilap itu selan jutnya dikarantina dan dirawat di Pusat Konservasi Satwa Singka Zoo di Singkawang, sebelum dilepasliarkan ke habitat alamnya di Kawasan Taman Nasional Danau Sentarum, Kabupaten Ka puas Hulu.
“Burung ini dikhawatirkan akan mati jika langsung dilepasliarkan, karena tidak mampu beradaptasi akibat terlalu lama dipelihara manusia,” ujar Junaidi.
Masa orientasi ini tergantung pada kondisi dan lamanya burung dipelihara manusia. Semakin lama mereka menjadi burung peliharaan, semakin lama pula masa orientasi atau karantinanya.
Terancam punah
Kangkareng hitam ialah satu dari tujuh jenis enggang atau rangkong yang hidup di belantara Kalimantan. Populasi ketujuh jenis enggang itu di habitat alam semakin terancam akibat eksploitasi hutan yang tidak terkendali.
Dari ketujuh spesies itu, enggang badak (Buceros rhinoceros) dan enggang gading (Buceros vigil) adalah spesies yang paling terkenal dan fenomenal karena memiliki bentuk fisik dan warna bulu menawan.
Enggang badak bahkan dijadikan sebagai maskot Negara Bagian Serawak, Malaysia. Sementara itu, enggang gading menjadi maskot Kalbar. Enggang gading, spesies paling terancam populasinya di antara spesies enggang di Kalbar, kini masuk kategori Apendiks I atau satwa yang sangat dilindungi karena terancam punah.
Penelitian mengenai sebaran populasi spesies ini di habitat alam belum ada. Namun, jika melihat laju kerusakan hutan primer di Kalbar--mencapai enam kali luas lapangan sepak bola setiap jam--dipastikan populasinya berada dalam bahaya besar.
“Burung ini hidupnya arboreal atau selalu hinggap di tajuk pohon, sehingga populasinya sangat tergantung pada sebaran pohon di hutan primer,” kata Koordinator Biologi Konservasi WWF-Indonesia Program Kalbar Albertus Tjiu.
Ancaman terhadap populasi enggang gading semakin diperparah aktivitas perburuan dan perdagangan gelap. Burung ini diburu untuk diambil bulu ekor dan jambulnya sebagai aksesori. Tidak jarang pula dijadikan santapan oleh para penebang kayu di hutan. Padahal, regenerasi enggang gading sangat lamban. Kemampuan bertelurnya maksimal hanya dua butir dalam satu siklus reproduksi.
“Peran enggang sangat penting dalam ekosistem, yakni sebagai predator alami serangga dan penyebar biji tumbuhan hutan yang paling efektif karena daya jelajahnya tinggi,” jelas Albertus.
Burung suci penganut monogami
Enggang, khususnya jenis enggang gading dan enggang badak, memiliki arti bagi warga Kalbar. Dalam mitologi masyarakat adat Dayak burung ini diyakini sebagai burung sakti titisan dewa dari kayangan.
“Enggang itu burung sakti, keramat, dan bertuah. Mereka menempati urutan pertama di antara sembilan burung yang dianggap sakti menurut orang Dayak,” kata budayawan Dayak Kalbar Massuka Baroamas Janting Balunus.
Kesaktian atau tuah yang dimiliki satwa ini kerap digunakan warga sebagai perantara untuk berhubungan dengan alam gaib. Mereka memanggil roh yang bersemayam di tubuh enggang guna memohon bantuan kekuatan dalam menghadapi musuh atau peristiwa penting. Ritual itu disertai sesajen utama berupa lemang dan tuak ketan yang ditempatkan dalam sebilah bambu.
”Lemang dan tuak itu harus ada karena makanan atau minuman dari ketan dipercaya sebagai makanan para penghuni kayangan,” jelas Baroamas.
Kehadiran dan perilaku enggang juga kerap dihubungkan dengan sebuah pertanda, pesan atau firasat. Warga biasanya menghentikan pekerjaannya, jika enggang yang melintas atau hinggap di sekitar mereka bertingkah laku tertentu yang menunjukkan fi rasat tidak baik.
Oleh karena itu, memburu atau membunuh apalagi mengonsumsi satwa ini dianggap tabu bagi etnik Dayak. Upacara dan ritual adat pun harus digelar jika pantangan dilanggar agar terhindar dari malapetaka.
Adapun bagian kepala dan bulu ekor, yang sering digunakan sebagai perhiasan pada mahkota panglima atau ketua adat Dayak berasal dari enggang yang sudah mati.
”Bulu ekor biasanya juga didapat dengan menangkap enggang melalui perangkap. Namun, setelah itu burung tersebut dilepaskan kembali ke alam,” ujar Baroamas.
Selain diyakini sebagai burung suci dan dikeramatkan, enggang juga dianggap burung yang setia pada pasangannya. Seekor jantan hanya mengawini seekor betina sepanjang hidupnya. Mereka tidak pernah mencari pengganti jika pasangannya mati.
”Enggang jantan juga telaten dan rajin mencari makanan serta menyuapi betina selama pasangannya itu mengerami telur hingga menetas,” kata Albertus.  (N-4)
aris@mediaindonesia.com


Blog Updated at: 2:10 PM