Si Manis Dirusak Monopoli

Posted by


Nusantara  |  RABU, 13 JANUARI 2010  |   MEDIA INDONESIA  
JERUK Pontianak, begitu biasa orang menyebutnya, meskipun buah ini aslinya berasal dari Kabupaten Sambas. Mungkin karena komoditas itu dipasarkan ke sejumlah daerah di Indonesia melalui Pontianak.
Jeruk ini sangat terkenal dan banyak diminati konsumen karena rasanya yang manis dan menyegarkan sehingga bisa langsung dikonsumsi tanpa harus melalui proses pengolahan terlebih dahulu.
Jeruk jenis siam ini sebagian besar berasal dari Kecamatan Tebas, Pemangkat, dan sekitarnya di Kabupaten Sambas. Daerah itu berjarak sekitar 200 kilometer dari ibu kota Kalimantan Barat (Kalbar), Pontianak.
“Tanaman ini juga dibudidayakan di Kabupaten Pontianak dan Kubu Raya. Namun, pertumbuhan dan kualitasnya tidak sebaik di Sambas,” kata pemerhati dan peneliti jeruk di Kalbar A Hamid Yusra kepada Media Indonesia, kemarin.
Komoditas ini pernah mengalami masa kejayaan sekitar tiga hingga empat dasawarsa lalu karena menjadi primadona perekonomian daerah, selain sektor perkayuan. Para petani begitu bergairah membudidayakan dan merawat kebun mereka.
Memiliki kebun jeruk ketika itu tidak ubah seperti memiliki tambang emas karena prospeknya cukup menggiurkan. Sebab, selain dipasarkan antarpulau, jeruk juga mampu menembus pasaran ekspor, terutama ke sejumlah negara di Asia Tenggara.
“Petani di Sambas banyak yang bisa naik haji dari hasil usaha menanam jeruk,” kata Hamid, yang juga Ketua Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak.
Masa keemasan perlahan redup seiring dengan pemberlakuan sistem monopoli oleh dua perusahaan nasional yang mengatur tata niaga dengan menetapkan kuota pembelian dan harga secara sepihak. Hal itu menyebabkan harga jeruk anjlok karena dua perusahaan itu tidak mampu menampung semua hasil panen petani.
“Jeruk yang tidak tertampung itu akhirnya dibuang begitu saja oleh petani di pinggir jalan atau sungai karena tidak boleh dijual ke tempat lain,” kata pengusaha pertanian Kalbar Andreas Acui Simanjaya.
Praktik monopoli yang berlangsung selama satu dasawarsa (1988-1998) mengakibatkan ribuan hektare lahan jeruk telantar dan beralih fungsi.
Rehabilitasi
Pamor jeruk pontianak yang mati suri itu secara perlahan dicoba untuk dibangkitkan kembali melalui program rehabilitasi dan pengembangan. Program yang dicanangkan pemerintah sejak 1999 itu menargetkan merehabilitasi 10 ribu ha lahan jeruk di Sambas dalam kurun waktu lima tahun.
Berdasarkan data Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalbar, luas areal penanaman jeruk di Sambas saat ini mencapai 12 ribu ha. Namun, upaya itu belum mengembalikan kejayaan petani jeruk.
Sejumlah persoalan klasik, semisal serangan penyakit dan peningkatan kualitas, masih menjadi kendala utama yang tidak kunjung teratasi.
Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalbar Hazairin menilai serangan penyakit yang menginfeksi bagian empulur batang itu masih tergolong wajar dan bisa ditanggulangi.
“Penyebaran CVPD terkait dengan pemeliharaan dan perawatan sehingga petani harus betul-betul memperhatikan kedua aspek itu,” tegasnya.
Petani juga kurang bergairah karena harga jual jeruk di tingkat petani sangat rendah hanya berkisar Rp2.500 hingga Rp3.000 per kilogram, atau separuh dari harga keekonomian yang sekitar Rp5.000 hingga Rp6.000 per kilogram.
Selain itu, jeruk pontianak harus bersaing dengan komoditas serupa yang didatangkan dari daerah lain.
“Jeruk siam pontianak juga dibudidayakan dan berkembang di Lampung, Riau, dan Malaysia. Mereka memanfaatkan peluang kejatuhan jeruk pontianak saat era monopoli perniagaan jeruk,” ungkap Acui. (AR/N-1)


Blog Updated at: 1:59 PM