Telur-Telur Sambas yang Terampas

Posted by


NUSANTARA  I  RABU, 16 DESEMBER 2009  I  MEDIA INDONESIA

POPULASI penyu yang singgah untuk bertelur di pesisir pantai Paloh cukup banyak, tetapi ancaman bagi kelangsungan habitat ini sangat serius. Betapa tidak, aktivitas perburuan telur penyu di Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat (Kalbar), kembali marak dalam dua bulan terakhir. Komplotan pemburu semakin aktif merekrut warga setempat.
Pantai di sepanjang Kecamatan Paloh merupakan habitat terbesar penyu di Kalbar. Saat musim bertelur terdapat sekitar 50 penyu betina yang mendarat setiap malam untuk bertelur. Setiap induk rata-rata menghasilkan 114 butir dalam sekali bertelur.
Penjualan penyu dilakukan oleh oknum Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) yang merupakan pejabat berwenang mengawasi dan memelihara kelangsungan hidup penyu.
“Saat ini setidaknya ada sekitar 10 orang  yang tergabung dalam komplotan pencurian telur penyu di Kecamatan Paloh,” kata aktivis pelestarian penyu laut Kalbar, Dwi Suprapti, pekan lalu.
Dari 50 sarang telur (5.700 butir), paling hanya dua sarang (228 butir) yang bisa diselamatkan. Selebihnya habis dijarah oleh komplotan pencuri. Komplotan ini diduga dipimpin Abdul Latif, seorang mantan pegawai harian BKSDA yang sebelumnya ditugaskan mengawasi habitat alam penyu di sepanjang Pantai Paloh.
Ia dipecat dari BKSDA sejak keterlibatannya diberitakan di media massa pada awal Agustus lalu. Aktivitas komplotan ini sempat sepi pascapemecatan Latif. Namun, kondisi itu hanya sempat bertahan sekitar dua bulan.
Dijual ke Malaysia
Keberadaan komplotan ini cukup meresahkan karena sebagai pemain utama, mereka kerap melakukan aksi pencurian telur secara besar-besaran saat musim puncak penyu bertelur pada setiap Mei hingga Agustus.
Telur penyu hasil jarahan itu dijual ke Distrik Sematan, Malaysia, melalui pintu perlintasan tradisional di Temajuk-Telok Melano, yang hanya berjarak 3 kilometer atau sekitar 30 menit dengan menggunakan sepeda motor dari Desa Temajuk, Kecamatan Paloh.
Telur yang akan diselundupkan ke Malaysia itu dihargai sekitar Rp5.000 per butir di tingkat pengepul. Lebih mahal jika dibandingkan dengan harga di pasaran lokal setempat yang sekitar Rp1.500-Rp2.500 per butir.
Selain ancaman pencurian telur penyu, masyarakat ternyata memiliki kebiasaan lain yakni membunuh induk penyu yang akan bertelur. Para pemburu tidak segan-segan melakukan pembantaian untuk mendapatkan telur yang masih berada dalam perut induk penyu.
“Sedikitnya ada enam ekor induk penyu yang dibantai selama musim bertelur tahun ini,”
Dari sekitar 63 kilometer pesisir pantai di Kecamatan Paloh yang biasa digunakan untuk tempat bertelur penyu, yakni bentang lahan dari Taman Wisata Alam Belimbing hingga Tanjung Datuk, praktis hanya di sepanjang 10 kilometer wilayah taman wisata yang terpantau oleh petugas BKSDA Kalbar.
BKSDA Kalbar sejauh ini didaulat untuk menjaga kelestarian penyu maupun penangkarannya. Namun, kondisi di lapangan, penjaga penyu ini justru melegalkan penjualan telur penyu. Padahal sudah ada UU No 5/1990 Pasal 40 yang akan menjegal para pelanggar seperti itu dengan hukuman penjara maksimal 5 tahun dan denda maksimal Rp100 juta.
Jika kecenderungan penurunan populasi penyu seperti sekarang terus berlanjut, diprediksi penyu akan punah dalam 10 tahun. Hilangnya satwa ini berakibat bagi kehidupan manusia karena penyu memberikan manfaat dan salah satu penyangga kehidupan manusia. (AR/M-3)


Blog Updated at: 5:02 PM