Pembela Korban Trafficking

Posted by

SOSOK |  SENIN, 13 JULI 2009  | MEDIA INDONESIA






Arsinah Sumetro

Kalbar adalah daerah dengan kasus trafficking terbesar di Indonesia.  Arsinah bekerja tak kenal takut untuk memeranginya.



Aries Munandar

PERJUANGAN Arsinah Sumetro dalam membela korban perdagangan manusia (trafficking) tidak perlu diragukan lagi.  Ribuan perkara telah ia ditangani selama sembilan tahun menggeluti tugas kemanusiaan ini.

Berbagai tekanan fisik dan mental silih berganti menghampiri perjalanan kariernya. Mulai dari tawaran materi dari para cukong dan oknum aparat hingga ancaman akan dibunuh hingga dikeroyok para preman bayaran. Namun, semua itu tidak membuatnya gentar atau mundur selangkah pun dalam membela para korban trafficking.

“Tangan saya pernah saya sampai bengkak karena dikeroyok agen penyalur tenaga kerja Indonesia di Sibu (Malaysia),”  kata Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Anak Bangsa itu.

Perempuan berjilbab ini menikmati betul pekerjaannya sebagai relawan antitraffi  cking. Melalui LSM Anak Bangsa yang didirikannya, ia melakukan pendampingan terhadap korban  trafficking yang terjadi di perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan Barat.

Arsinah sering kali turun langsung menjemput korban yang ditampung sementara di Kantor Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Kuching, Serawak, Malaysia, dan memulangkan mereka ke kampung halaman masing-masing.

“Sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak yang masih berusia belasan tahun,” ujarnya.
Sebelum dipulangkan, korban terlebih dahulu diinapkan di selter atau rumah singgah milik LSM Anak Bangsa yang berada di Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalbar, sambil menunggu pengurusan administrasi dan kepastian proses hukum.

Selter yang menyatu dengan kantor LSM itu tidak jarang penuh sesak karena jumlah penghuninya melebihi daya tampung yang hanya sekitar 30 orang.  Kondisi ini mengurangi kenyamanan bahkan dapat mengancam keselamatan jiwa para korban.

Arsinah mengaku kantornya pernah beberapa kali disatroni orang-orang tertentu yang tidak senang dengan aktivitas yang dilakukan lembaga yang dipimpinnya.

“Kami sebenarnya membutuhkan penampungan yang aman dan memadai karena tempat yang ada saat ini masih menggunakan rumah pribadi,” kata ibu empat anak ini.

Tinggalkan kemapanan
Arsinah dilahirkan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, dari pasangan Sumetro dan Amas, 50 tahun silam. Ia anak kedua dari 10 bersaudara dan menetap di Kalbar sejak 2000.

Sebelum terjun ke dunia pembelaan terhadap kaum buruh migran, istri almarhum Suwarni Arfani ini pernah menduduki sejumlah posisi penting di beberapa perusahaan swasta. Di antaranya manajer lapangan pada sebuah perusahaan asing yang bergerak di sektor perkayuan.

Namun, semua pekerjaan yang menjanjikan kemapanan hidup itu ia tinggalkan demi mengikuti panggilan jiwanya yang merasa miris melihat kondisi buruh migran di Malaysia.

“Dalam sebuah perjalanan ke Kuching pada 2002, saya menyempatkan mampir ke wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalbar. Ketika itu, saya melihat banyak kasus perdagangan perempuan dan anak di sana yang tidak tertangani,” katanya menerawang.

Arsinah, yang akrab dipanggil Bu Ar oleh rekan sejawat dan stafnya ini menilai perdagangan perempuan dan anak yang dialami buruh migran Indonesia itu telah melecehkan martabat dan harga diri bangsa. Sejak saat itulah ia tergerak untuk terjun secara aktif melakukan pendampingan dan pembelaan terhadap para pahlawan devisa negara tersebut.

“Saya tidak ingin bangsa ini dilecehkan negara lain atau oleh oknum aparat pemerintah kita sendiri. Apalagi peristiwa itu terjadi di depan mata saya,” tegas Arsinah yang juga membuka kursus pendidikan pelayanan khusus bagi anak putus sekolah dan usia dini di kantornya.

Masalah perburuhan sebenarnya bukanlah hal yang asing bagi Arsinah meskipun pendidikan formal terakhirnya hanya lulusan sekolah menengah atas (SMA). Pengalaman selama bekerja di sejumlah perusahaan besar dan berbagai literatur dari luar negeri yang sering ia baca dijadikannya sebagai bahan referensi dalam menangani kasus buruh migran, terutama yang menjadi korban trafficking.

“Saya suka membaca buku-buku tentang perburuhan dan penegakan hak asasi manusia terbitan luar negeri sejak 1978,” tutur mantan kontraktor ini.

Awalnya banyak pihak yang meragukan niat tulus Arsinah. Pekerjaan baru yang dilakoninya itu dinilai hanya sebagai kedok untuk mengeruk keuntungan pribadi dan mendapatkan proyek dari pemerintah. Tudingan itu terkait dengan latar belakangnya yang mantan pekerja pada sebuah perusahaan perkayuan dan kontraktor.

“Sampai sekarang pun tudingan itu masih sering dialamatkan kepada kami. Bahkan ada seorang anggota DPRD yang menganggap LSM kami hanya mencari duit,” jelasnya.

Dibohongi
Kalbar merupakan salah satu daerah yang memiliki kasus  trafficking terbesar di Indonesia. Kondisi geografi  snya yang berbatasan darat dengan Malaysia menjadikan provinsi ini sebagai daerah transit sekaligus pengirim tenaga kerja Indonesia (TKI) ilegal ke Malaysia.

Selain lewat pintu masuk resmi di Entikong, korban diselundupkan melalui perlintasan batas tradisional dan jalan setapak. Terdapat empat pintu perlintasan tradisional dan 55 jalan setapak yang menghubungkan Kalbar dengan Serawak.

“Meskipun masuk dari berbagai jalur, proses pemulangan TKI ilegal di Kalbar selalu melalui Entikong karena merupakan satu-satunya pintu masuk resmi di perbatasan dengan Malaysia,” terang Arsinah.

Data LSM Anak Bangsa menyebutkan terdapat 529 TKI bermasalah yang ditangani lembaga itu sepanjang tahun ini. Dari 529 TKI bermasalah tersebut sekitar 70% atau 370 di antaranya korban trafficking. Korban trafficking ini meningkat daripada tahun lalu yang sebanyak 276 orang.

Menurut Arsinah, berbagai permasalahan yang melilit para buruh migran itu beragam. Namun, umumnya kasus penipuan, gaji yang tidak dibayar majikan, dan tindakan kekerasan serta pelecehan seksual.

“Kami pernah menerima TKI perempuan yang depresi berat karena menjadi korban tindak
kekerasan dari majikan,” ungkapnya.

Praktik trafficking di Kalbar melibatkan sebuah jaringan yang diduga didanai cukong dari Malaysia. Dalam menjalankan aksinya, mereka merangkul beberapa warga lokal sebagai tenaga perekrut yang mengiming-imingi calon TKI dengan gaji besar.

Kelakuan para calo itu membuat aktivis yang sering menjadi narasumber di sejumlah seminar tentang trafficking ini geram. Sebab, mereka tega menjual saudara sebangsanya sendiri hanya demi beberapa lembar ringgit.

“Mereka (calo) dibayar RM2.600 (sekitar Rp7,28 juta) jika berhasil merekrut satu calon TKI pesanan cukong.”  (X-9)  
aries@mediaindonesia.com 

                             =============================================
Biodata
Nama                          :  Arsinah Sumetro
Jabatan                        :  Ketua LSM Anak Bangsa
Tempat, tanggal lahir :  Palangkaraya, 6 Juni 1959
Pekerjaan                    :  Relawan buruh migran
Suami                          :  Suwarni Arfani (almarhum)
Anak                            :  1. Sukardi, 30
                                        2. Ahmad Rifani,27
    3. Nawarah, 22
                                        4. Hafsah, 20
Pendidikan Formal      : SMA (Persamaan) Bukit Tunggal, Palangkaraya, Kalimantan Tengah

KURSUS/PENATARAN
Pembelaan Hak Asasi Manusia, Makassar (2003)
Pencegahan dan Penanganan Perdagangan Manusia, Jakarta, (2004)
Penanganan Pendidikan Anak, Solo (2006)
Pendidikan Life Skill, Mataram (2008)

RIWAYAT KARIER
Staf PT Sifo Jaya, Sampit, Kalteng (1976-1978)
Staf PT KPC, Katingan Hulu, Kalteng (1978-1980)
Penyuplai kayu dan bahan bangunan, Palangkaraya (1980-1991)
Sales PT Bumi Putra (1992-1993)
Sales Senior PT Jiwasraya (1995-1996)
Kontraktor Proyek Pembangunan Menara PLN, Palangkaraya (1996-1998)
Manajer PT Kalteng Membangun, Palangkaraya (1997-1999)
Pengawas PT Karya Bumi Pratama, Pontianak (2000-2001)
Sekretaris dan Koordinator Wilayah Perbatasan Lembaga Agro Mitra (2001-2003)
Ketua LSM Anak Bangsa (2004-sekarang)

PENGALAMAN ORGANISASI
Pembina Sanggar Putri Sarinande, Palangkaraya (1971-1974)
Pembina Himpunan Anak Perdesaan di Kalteng (1978)
Ketua Himpunan Pedagang Kecil Kalteng (1996-1998)


Blog Updated at: 1:01 AM