Damianus Yordan

Posted by



SOSOK |  SENIN, 17 SEPTEMBER 2009   I MEDIA INDONESIA

Si Tangan Dingin dari Pelosok Kalbar

Melalui tangannya, lahir sejumlah petinju muda berbakat dan berprestasi hingga ke gelanggang internasional.




Aries Munandar

KEDISIPLINAN, kerja keras, dan harapan terhadap perubahan nasib adalah kunci keberhasilan bapak berputra satu ini. Nama Damianus Yordan kembali mencuat akhir-akhir ini seiring keberhasilan Daud Yordan yang tampil menjadi ikon baru dunia tinju nasional.

Sejumlah prestasi yang disandang Daud saat ini tidak bisa dilepaskan dari jasa Damianus sebagai pelatih sekaligus motivator pribadi.

“Tinju olahragaku, disiplin napasku, juara dunia cita-citaku, dan kesejahteraan impianku. Semangat itu selalu saya tanamkan kepada setiap anak didik saya agar mereka termotivasi untuk menjadi petinju besar,” kata Damianus.

Daud hanya salah satu dari puluhan petinju asuhan Damianus. Meskipun prestasinya belum segemilang Daud, kemampuan para petinju yang direkrut Damianus dari warga di sekitar tempat tinggalnya di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat (Kalbar), itu tidak bisa dianggap enteng.

Keberhasilan Damianus dalam memoles petinju kaliber dunia seolah menjadi garansi, sehingga sebagian dari mereka kerap menjadi jawara di berbagai kejuaraan daerah dan nasional. Ia memang bertangan dingin.

Puluhan petinju yang rata-rata masih berusia belia itu memang dipersiapkan untuk mengikuti jejak Daud, petinju Indonesia pertama yang menorehkan prestasi gemilang di belantara tinju profesional dunia Las Vegas, Amerika Serikat.

“Kami memiliki dua petinju andalan yang dipersiapkan sebagai pengganti Daud kelak, yakni Ki Cang Kim dan Tarmidji. Mereka petinju cerdas, berbakat, dan mempunyai motivasi kuat untuk menjadi juara tinju,” ungkap pria berkuncir itu.

Komitmen Damianus terhadap pembinaan tinju memang tidak diragukan lagi. Demi memenuhi ambisinya yang ingin menjadikan Kayong Utara sebagai pusat pembinaan dan lumbung petinju nasional, ia rela merogoh kocek pribadi untuk membangun sebuah sasana tinju di kampung halamannya.

Sasana yang berdiri sejak setahun terakhir itu berada persis di samping rumah pribadinya di Dusun Sungaibelit, Desa Sejahtera, Kecamatan Sukadana, Kayong Utara.

Di bangunan seluas 13 x 37 meter tersebut, puluhan petinju berlatih sekitar dua ribu pukulan setiap hari. Sebelum sasana ini berdiri, mereka menumpang latihan di gedung pertemuan milik TNI setempat.

Gratis
Pegawai Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kayong Utara yang akrab dipanggil Dami ini menggratiskan seluruh biaya latihan, karena ia tahu para atlet binaannya tersebut berasal dari kalangan tidak mampu.

Untuk memenuhi biaya operasional dan kebutuhan atlet sehari-hari, Dami menyisihkan gajinya sebagai PNS setiap bulan dan keuntungan usaha penggilingan padi miliknya.

Buta huruf
Olahraga tinju bukanlah dunia yang asing bagi Damianus. Sebelum menjadi pelatih, pria kelahiran Simpang Hulu, Kayong Utara, 36 tahun lalu ini telah malang-melintang di dunia tinju amatir dan profesional sebagai atlet.

Prestasi terbaik yang pernah ia raih, di antaranya juara kelas layang Arafura Games 1997 di Sydney, Australia, peraih medali perunggu di Muhammad Ali Cup 1997 di Amerika Serikat, dan juara kelas layang Asia 1998 di Seoul, Korea Selatan.

Selama menjadi atlet, suami dari Widyawati ini juga berkesempatan berguru ke Kuba sekitar enam bulan. Dami menjadi petinju Kalimantan pertama yang berkesempatan menimba ilmu di negara yang menjadi salah satu kiblat tinju dunia itu.

Pengalaman selama menjadi atlet hingga berguru di Kuba itu menjadi modal dan referensi baginya dalam melatih dan mempersiapkan petinju-petinju muda andal, di samping sejumlah literatur yang ia dapatkan dari berbagai media penerbitan.

“Saya banyak mengadopsi gaya bertinju Kuba yang mengandalkan kombinasi pukulan  straight dan  jab,” beber sosok yang dicalonkan sebagai pelatih olahraga terbaik nasional 2009 versi tabloid Bola ini.

Keberhasilan Dami selama ini mungkin tidak terlalu istimewa sebab bisa jadi banyak pelatih olahraga di Indonesia yang juga sukses mengorbitkan sejumlah atlet binaannya. Bedanya, keberhasilan anak sulung dari enam bersaudara ini diperoleh dari berbagai keterbatasan mengingat lokasi wilayahnya berada di pelosok Kalbar dan cukup terpencil.

Namun, minimnya dukungan fasilitas dan sarana latihan itu tidak membuatnya patah arang. Keterbatasan tersebut justru dianggapnya sebagai berkah sehingga kondisi alam di sekitar tempat tinggalnya yang terdiri pantai dan dikelilingi bukit itu dimanfaatkan Dami sebagai wahana latihan fisik.

“Berlari di perbukitan dan hamparan pasir di pantai sangat baik untuk melatih pernapasan, stamina, dan daya tahan tubuh,” ujarnya.

Selain lokasinya yang terpencil, sasana milik Dami juga menampung remaja putus sekolah dan sebagian besar di antaranya penyandang buta huruf.

Mereka sengaja dididik Dami menjadi petinju andal agar derajat kehidupannya terangkat. (X-9)
aries@mediaindonesia.com

                                  ======================================= 
Biodata
Nama                          : Damianus Yordan
Tempat, tanggal lahir  : Simpang Hulu, 29 September 1973
Pekerjaan                    : PNS dan Pelatih Tinju
Istri                             : Widyawati
Anak                           : Julio Duvergel Yordan Jr
Pendidikan Terakhir   : SMA Negeri 2 Ketapang
Prestasi :
·      Juara tinju Arafura Games, Sydney, Australia (1997)
·      Juara tinju Asia, Seoul, Korea Selatan (1998)       
·      Medali perunggu pada Muhammad Ali Cup, Amerika Serikat  (1997)
·      Peraih medali perak pada PON XV, Jawa Timur (2000)
·      Nomine pelatih terbaik nasional versi tabloid Bola (2009)


Blog Updated at: 6:38 PM