Kebutuhan Hidup dan Nasionalisme

Posted by


Nusantara  |  SENIN,  2  JUNI  2008  |  MEDIA INDONESIA
WARGA Lanjak dan Badau di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat (Kalbar), sejak dahulu sering membawa berbagai hasil bumi, di antaranya lada dan karet, ke Lubok Antu, Serawak, Malaysia, untuk ‘ditukar’ dengan berbagai kebutuhan pokok, dan sebaliknya.
Lambat laun hubungan dagang itu berjalan timpang sehingga menimbulkan ketergantungan. Pasalnya, kini sebagian besar kebutuhan pokok warga Lanjak dan Badau dipasok dari negara tetangga itu melalui pos pelintas batas tradisional.
“Sekitar 80% kebutuhan pokok di sini, termasuk bahan bakar minyak, dipasok dari Malaysia,” kata Sekretaris Kecamatan Badau Kanyan.
Kondisi itu merupakan gambaran umum perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalbar, yang meliputi 15 kecamatan di lima kabupaten. Jauhnya jarak dari pusat perdagangan dan minimnya infrastruktur dasar yang memadai menyebabkan tersendatnya distribusi kebutuhan pokok ke kawasan itu. Kalaupun tersedia, harganya sangat mahal sehingga tidak ada pilihan kecuali mendatangkannya dari Malaysia.
Sebagai gambaran, perjalanan darat menggunakan kendaraan bermotor dari Badau ke Lubok Antu hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit, sementara Badau-Putussibau (ibu kota Kabupaten Kapuas Hulu) 4,5 jam.
Rumor yang menyatakan kurangnya rasa nasionalisme warga perbatasan pun merebak. Apalagi, sejak munculnya isu keterlibatan warga perbatasan Indonesia dalam Askar Wataniah, beberapa waktu lalu.
“Walaupun hanya sejengkal tanah (wilayah) kita yang akan diambil Malaysia, kami tetap akan membela matian- matian,” kata Sekretaris Desa Sempandan, Kecamatan Lanjak Andreas T Janting.
Berdasarkan penelusuran Media Indonesia, hubungan terbuka Indonesia-Malaysia di Lanjak dan Badau tidak hanya menyebabkan kedua wilayah itu dibanjiri produk kebutuhan pokok dari negara tetangga. Kendaraan bermotor selundupan asal Malaysia pun bebas beroperasi.
Tidak hanya itu, beberapa warga setempat juga diduga memiliki kewarganegaraan ganda.
KTP ganda
Komandan Regu Pasukan Pengamanan Perbatasan Indonesia-Malaysia di Badau, Serda     Arif S, mengungkapkan aparat Malaysia menemukan adanya empat warga mereka yang memiliki kartu tanda penduduk (KTP) Indonesia. Temuan itu didapat dalam sebuah operasi pengamanan perbatasan beberapa waktu lalu.
“Tidak begitu jelas KTP itu diterbitkan oleh pihak kecamatan mana sebab kami hanya ditunjukkan secara sekilas oleh pihak keamanan Malaysia,” ujarnya.
Kanyan memastikan KTP itu bukan dikeluarkan pihaknya. Menurutnya, Badau sudah menerapkan sistem komputerisasi sehingga lebih selektif dalam menerbitkan kartu identitas kependudukan RI.
Andreas memperkirakan saat ini terdapat 3% atau sekitar 32 dari 1.075 warganya yang memiliki KTP Malaysia. Bahkan beberapa di antaranya memiliki akta kelahiran terbitan Malaysia.
“Mereka membuatnya saat bekerja di Malaysia. KTP Malaysia itu berlaku seumur hidup sehingga meski mereka tidak lagi bekerja di sana, KTP tersebut masih tetap bisa digunakan,” jelasnya. (Aries Munandar/N-2)


Blog Updated at: 11:59 PM