Daud Yordan

Posted by



OLAHRAGA |  JUMAT, 3 OKTOBER 2008   I MEDIA INDONESIA

Bertinju demi Seteguk Minuman Bersoda

HANYA untuk merasakan bagaimana nikmatnya minuman bersoda, anak tanggung ini rela merasakan kerasnya pukulan. Ketika anak sebayanya dengan mudah minum karena orang tuanya mampu membelikan, bocah berusia sembilan tahun itu hanya bisa menelan ludah.

Sebagai petani kecil, orang tuanya jelas tidak mampu memanjakan Daud Yordan untuk membelikan minum bersoda. Itu sebabnya, ketika pada 1996 ia sudah bisa naik ring dan mendapatkan bayaran perdana Rp50 ribu, Daud langsung memuaskan dahaga akan minuman bersoda yang ia kira berharga mahal.

“Ternyata harganya cuma seribu perak per botol. Jadilah saya membeli beberapa botol,” ujar Daud tertawa terbahak-bahak.

Tekad karena ingin merasakan minuman bersoda dan juga terinspirasi oleh keberhasilan kakaknya, Damianus Yordan, membuatnya mantap meniti karier lewat kepalan tangan di atas ring.

Daud merupakan anak kelima dari enam bersaudara pasangan Hermanus Lai Cun dan Natalia. Keluarga ini dikenal sebagai produsen tinju karena empat dari enam putranya meniti karier di tinju profesional. Mereka adalah Damianus Yordan, Petrus Yordan, Daud Yordan dan Yohanes Yordan.

“Dunia tinju kini telah mengangkat kehidupan kami. Setidaknya sekarang saya bisa mempersiapkan masa depan,” kata Daud ketika ditemui di Pontianak, Kalimantan Barat beberapa waktu lalu.

Petinju kelas bulu ini belajar banyak dari pengalaman para seniornya tentang kehidupan. Setiap rupiah penghasilannya dari beradu pukul ditabung, selain untuk membantu orang tuanya. Hasilnya sudah terlihat, seperti rumah, mobil, motor dan beberapa petak tanah di kampungnya.

“Berapa lama sih saya bertahan sebagai petinju? Bagaimana kalau saya sudah tidak bertinju lagi? Itulah yang membuat saya prepare semua ini,” tutur Cino-sapaan Daud Yordan.

Sosoknya dikenal sederhana, ramah dan bersahaja. Kesederhanaan itu diperlihatkannya dengan selalu memilih mess atlet berukuran 18 meter persegi di Kompleks Gedung Olahraga Pangsuma sebagai tempat menginap saat berada di Pontianak. Di kamar itu, ada enam tempat tidur bertingkat. Satu-satunya barang mewah di kamar itu adalah televisi berwarna ukuran 14 inci.

Siapapun tidak akan menyangka kalau Daud, petinju dengan rekor 22-0 (18 KO), mampu berlabuh di Las Vegas, rimba tinju profesional dunia. Apalagi kalau dia kemudian teken kontrak selama lima tahun dengan Golden Boy Promotion, milik petinju legendaris Oscar De La Hoya. Aksi perdananya adalah melibas petinju Mexico Antonio Meza.

“Sebelumnya saya tidak pernah memimpikan bisa bertanding di AS. Kemenangan ini membuka jalan bagi saya untuk go international,” ujar bujangan kelahiran Ketapang, Kalbar tersebut.

Soal prestasi, Daud,21, cukup moncer. Ia adalah peraih perak di PON XVI/2004 di Palembang, Sumsel, juara amatir nasional kelas Bantam (1997-2005) dan Juara kelas Bulu versi WBO Asia Pasifik (2007-2008). Sikap profesional juga diperlihatkan petinju kelahiran Simpang Hulu, Kabupaten Ketapang, 10 juni 1987 ini. Lari sejauh 8-10 kilometer setiap hari ditambah latihan kecepatan hingga latih tanding. Termasuk soal makanan, petinju Kayong Utara BC ini tidak rewel, tapi harus makanan bergizi.

Soal julukan Cino, Daud menuturkan ketika ikut pelatnas pada 2001-2005, ia dipoles pelatih asal Kuba Jesus Carlos Ternate Torres. “Dia bilang untuk gampang dikenal, petinju harus punya julukan. Karena saya keturunan China, Ia beri saya gelar ’cino’ sebagai nama keberuntungan,” ujarnya. (Aries Munandar/R2)  


Blog Updated at: 6:55 PM