Budayakan Hidup Sehat Melalui Air Gratis

Posted by

Khairul Zaman,8, kini tak perlu lagi repot mencari minuman gratis di sekolahnya. Cukup dengan memutar kran dispenser, segelas air sehat pun diminumnya seteguk demi seteguk.

Air yang diminum siswa kelas 2 Sekolah Dasar (SD) Mujahiddin, Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar) bukanlah air mineral, seperti umumnya air di dispenser , tetapi berasal dari air PDAM yang diolah oleh sebuah mesin pemurni air (drinking machine). Sehingga air yang tadinya tidak layak konsumsi menjadi air yang layak konsumsi dan menyehatkan, tanpa perlu dimasak terlebih dahulu.


Khairul dan teman-temannya kerap memanfaatkan air hasil olahan dari mesin pemurni air yang bernama Khatulistiwa Air Sehat Tehnolgi Reverse Osmosis (Khastro) tersebut setelah lelah mengikuti pelajaran olahraga di sekolahnya.

“Kami sengaja menempatkan air itu ke galon di dispenser. Untuk memudahkan anak-anak mengambil airnya,” kata Siti Solehah, staf sekretariat Ikatan Orang tua, Murid dan Guru (Iko MG) SD Mujahiddin.


Khastro ialah pemurni air yang menggunakan membran berukuran 0,0001 mikron dengan tingkat kemurnian mencapai 100%, sehingga air yang dihasilkan merupakan air murni yang kaya dengan oksigen. Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak membagikan mesin itu secara gratis ke sekitar 50 sekolah dalam Program Air Sehat Gratis di Sekolah (ASGS) yang dicanangkan oleh Walikota Pontianak Buchary Abdurachman setahun lalu. 


Program ini merupakan sebuah terobosan dari Pemkot Pontianak untuk merubah perilaku masyarakat agar terbiasa dengan pola hidup yang bersih dan sehat, sejak usia sekolah.


“Program ini berangkat dari keprihatinan saya terhadap (semakin) langkanya air yang sehat dan menyehatkan. Kita tahu betapa mahalnya segelas atau segalon air mineral. Padahal jaminan terhadap keamanan dan kesehatan air dalam kemasan tersebut masih patut dipertanyakan,” kata Buchary.

Dia menjelaskan, air sehat yang dibutuhkan sebagai katalisator dalam metabolisme pada tubuh manusia ialah air murni, yang hanya mengandung dua atom hidrogen dan satu atom oksigen, seperti air alami yang dihasilkan oleh hujan. Tanpa embel-embel kandungan zat-zat lainnya.

“Kadang kadang kita sering salah kaprah. Mineral itu didapat dari makanan, misalnya sayur-sayuran, bukan dari air. Karena kandungan mineral pada air tidak murni organik (sehingga tidak bisa diserap oleh tubuh),” tukas Buchary yang juga seorang dokter.

Dia menambahkan hasil akhir dari program ASGS ialah meningkatnya prestasi belajar dan derajat kesehatan siswa. Indikatornya antara lain, menurunnya tingkat absensi dan biaya untuk jajan para siswa serta menurunnya angka kerusakan gigi dan kasus diare di sekolah yang bersangkutan. 


Namun, diakuinya, hasil itu tidak serta merta dapat dicapai dalam waktu singkat. Mengingat, program ini merupakan program pembangunan sumber daya manusia yang dampaknya baru akan terasa di masa yang akan datang.


“Ini merupakan human invesment, yakni program jangka panjang yang efeknya tidak segera tampak. Untuk melihat dampak terhadap kerusakan gigi saja, misalnya, dibutuhkan waktu hingga tujuh tahun. Jadi perlu keseriusan, kesungguhan dan ketelitian,” paparnya.

Tidak Mengunakan Dana Pemerintah
Program ASGS menghabiskan dana sekitar Rp150 juta. Semua kebutuhan dana itu ditanggung secara bersama oleh sejumlah perusahaan yang ada di Kota Pontianak, baik swasta maupun negeri (BUMN dan BUMD) sebagai pihak sponsor. Sehingga dalam program ini tak sepeser pun dana dari pemkot yang terpakai.


Saat pencanangan pada 20 Mei 2006, ditargetkan ASGS ini dilaksanakan di 200 lokasi, namun hingga kini baru seperempatnya yang bisa terlaksana. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya tidak semua sekolah di Pontianak memiliki jaringan PDAM. 


Namun, Pemkot Pontianak bertekad, tahun ini target tersebut harus terpenuhi.Untuk kelancaran program, pemkot telah menunjuk PDAM Kota Pontianak sebagai pelaksana dan penanggung jawab teknis.


“ASGS sekaligus merupakan persiapan awal dari PDAM untuk menyediakan air yang bisa langsung dikonsumsi masyarakat,” ujar Buchary.


Dalam pelaksanaannya, ASGS ini tidaklah berjalan mulus. Berbagai kendala teknis kerap menghambat kelancaran program tersebut. Semisal, masalah kelistrikan dan debit air PDAM sebagai sumber air baku. 


Setahun terakhir ini, listrik di Pontianak masih sering terjadi pemadaman, sehingga menyebabkan Khastro yang mengandalkan listrik sebagai sumber energinya tidak dapat difungsikan. Selain itu, debit dan pasokan air PDAM pada musim kemarau juga kerap berkurang atau berhenti total akibat interusi air asin pada sungai Kapuas yang merupakan sumber air baku PDAM.

“Kalau debit air PDAM berkurang, maka alat itu (Khastro) tidak dapat dioperasikan karena airnya tidak bisa naik ke alat pemurni tersebut. Begitupula kalau kadar garamnya tinggi bisa menyumbat filter air ,” kata Pimpinan Proyek ASGS Andi M Amiruddin.


Selain kendala teknis, masih ada sebagian warga sekolah yang meragukan kebersihan dan kesehatan air yang dihasilkan oleh Khastro.


“Mereka ragu, setelah adanya berita tentang pencemaran merkuri di Sungai Kapuas, yang merupakan sumber air baku PDAM,” kata M Yasin, salah seorang guru di SD Negeri 17 Pontianak. Hal yang sama juga dikemukan Mus Mujiono, Staf Tata Usaha SD Muhammadiyah 2 Pontianak.


Namun, keraguan itu ditepis Buchary. Ia mengklaim air olahan Kastro jauh lebih sehat dan steril dibanding air mineral dalam kemasan dengan bermerk apapun.

“Sebenarnya air PDAM itu bisa langsung diminum. Namun karena kondisi jaringan pipanya yang sebagian besar sudah tua, menyebabkan korosi. Sehingga agar layak konsumsi perlu dimurnikan terlebih dahulu,” tegasnya. (Aries Munandar)


Blog Updated at: 7:26 PM